Hariman Siregar: Saya Percaya Prabowo Menang

Aktivis Malari, Hariman Siregar dan Titiek Suharto sedang berdialog diatas Panggung Rumah Perjuangan Rakyat Jln.Proklamasi No.36 Menteng Jakarta Pusat (3/5)/ist

Aktivis Malari, Hariman Siregar sangat meyakini pasangan calon presiden (Capres) Prabowo Subianto dan calon wakil presiden (Cawapres) Sandiaga Uno menang dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019.

“Saya percaya Prabowo menang. Ini perasaan saya tidak bisa dipungkiri,” kata Hariman, dalam sambutannya pada acara Kemanusiaan untuk Korban Meninggal Anggota KPPS di Rumah Perjuangan Rakyat, Jakarta, Jumat (3/5/2019) malam.

Hariman menjelaskan, bahwa sejarah Indonesia itu pendek yakni tahun 1945-1965 itu kepemimpinan Presiden Soekarno. Tahun 1966 sampai 1998 adalah masa pemerintahan Presiden Soeharto.

“1998 sampai sekarang inilah reformasi yang saya kira nggak ngajarin kita apa-apa. Ini adalah ujung apa yang kita lakukan selama 20 tahun ini,” ujarnya.

Dalam 20 tahun proses reformasi, dia menilai secara bertahap demokrasi berjalan. Tetapi keadaan negara menjadi stagnan atau macet.

“20 tahun reformasi, saya melihat keadaan menjadi stagnan. Ini terlihat dari hasilnya dimana dukungan luar biasa, tetapi hasilnya tidak jauh beda dengan hasil Pemilu 2014. Sementara Prabowo hasilnya tetap, demokrasi prosedural ini, tetap tidak berubah, yakni Jawa pilih Jawa, Islam pilih Islam. Karena itu demokrasi harus terus di jaga dan adil,” tegas aktivis senior ini.

Hariman mengatakan, apapun real count KPU, dirinya tidak percaya. Tapi ia menekankan agar demokrasi bangsa ini harus dijaga. Aparat penegak hukum tidak berpihak dan peran masyarakat untuk mengawasi jalannya proses negara diberikan seluas-luasnya.

“Polisi jangan berpihak, media yang bebas dan tidak berpihak, civil society yang kuat, dan parpol yang kuat,” tukasnya.

Oleh karena Hariman menegaskan, bahwa perubahan harus dilakukan demi kebaikan bangsa Indonesia kedepan. Apalagi sejarah bangsa ini pendek, tidak memberikan pembelajaran berarti seperti halnya 20 tahun reformasi ini.”Maka perubahan itu perlu untuk kebaikan bangsa,” tukasnya.

Setelah sekian lama sistem politik Indonesia terkekang, maka kata Hariman, perlu ada yang memonitoring. Kemudian ia bersama mantan aktivis membentuk Tim Indonesia Demokratif Monitoring. Yang bertujuan untuk mengawal demokrasi transisi menjadi demokrasi terkonsilidasi. Yang tanpa kekerasan dan penindasan untuk bersama-sama mewujudkan Indonesia adil dan makmur.

Masa reformasi 20 tahun, ia menilai Pemilu 2004, 2009 dan 2014 berjalan lancar. Ini mengambarkan kriteria demokrasi sudah mulai matang karena Pemilu tidak hal-hal yang terlalu curang dan semua menerima hasilnya.

“Waktu Pilkada Pulau Jawa, yaitu Jabar, Jatim, Jateng, saya senang. Jakarta paling krusial selesai dengan adil. Tapi Pilpres saat ini, itu pasti ada kecurangan. Apapun real count tidak percaya, dan demokrasi harus dijaga,” pungkasnya. | RED/CEND/ATP

Comments

comments