DI NEGERI MATI, HATI TELAH MENJADI BANGKAI (Kepada Mereka Yang Gugur dalam Demonstrasi)

Puisi Acep Iwan Saidi *)

Siapakah kamu? Tidak ada kartu di saku celanamu. Kamu tidak berbapak, tidak beribu. Kamu yatim piatu. Itu mengapa tidak ada yang bertanggungjawab atas kematianmu. Juga tidak ada belasungkawa dan ungkapan pilu. Tidak ada karangan bunga untukmu. Orang-orang hanya tahu, sebuah peluru telah bersarang di tubuhmu. Lalu di nisanmu kini tertulis, “perusuh pada akhirnya hanya akan terbujur kaku”. Kamu adalah contoh baik untuk sebuah perilaku yang tidak boleh ditiru.

Oh, betulkah kamu yang melemparkan batu itu ke dalam kerumunan? Aku tidak mendengar suara yang terlontar dari mulutmu. Kamu bahkan tidak bisa mengeja kata “demokrasi”, apalagi “people power!”. Sekonyong-konyong saja tumbuh keyakinan di dalam dirimu, tentang sebuah keniscayaan peran yang kamu dengar dari gelombang suara yang merembet pada akar malam, dari dalam belantara tidak berpeta. Di Kurusetra, kamu hanya memiliki sebuah keyakinan tentang kedaulatan yang harus diperjuangkan, sedangkan dari seberang sana terdengar pula tantangan: tentang tidak ada lagi pilihan selain perang total.

Tapi, di manakah Kresna? Kamu bahkan tidak menemukan Pandawa, juga Kurawa. Kamu pun terlunta. Tidak tahu untuk siapa kamu berjuang. Maka kamu telanjangi dirimu hingga jadilah kamu yatim piatu, tidak berbaju. Sebelum peluru di dalam tubuhmu itu mengunci nafasmu, barangkali kamu sempat ingat, seseorang telah melemparkanmu ke mulut api.

Siapakah kamu? Lihatlah, bukankah faktanya tidak ada yang mengambil jenazahmu. Dari manakah asalmu? Apakah kewarganegaraanmu? Tidak ada telegram. Tidak ada yang berucap duka. Maka, izinkan aku menguburkanmu di dalam sajakku. Kamu akan menjadi saksi, atas Hati yang menjadi bangkai. Di sini, di negeri yang telah mati.

Bandung, 19 Ramadhan 1440 H.

*) Acep Iwan Saidi (AIS), lahir di Bogor, 9 Maret 1969. Tamat sekolah terakhir di S3 Seni Rupa ITB, tahun 2007. Kini mengajar di FSRD ITB. Bidang yang digeluti (kepakaran) Semiotika (seni, desain, dan kebudayaan termasuk di dalamnya politik).  Menulis buku, antara lain, Desain, Media, dan Kebudayaan (Buku Referensi, 2017),  Surat Malam Untuk Presiden (Kumpulan Status di Facebook, 2014), Tuhan, Kamu, dan Cinta (Antologi Puisi, 2012), Mendesain Penjara (Antologi Esei Desain dan Kebudayaan, 2011), Metode dan Strategi Efektif Membaca Karya Seni (Buku Referensi, 2009), Narasi Simbolik Seni Rupa Indonesia ( Buku Referensi, 2008), Mengapa Saya, Bukan Aku (Antologi Esei Bahasa dan Budaya, 2008), Aura Waktu, 50 Th ITB (Ketua Tim Penulis), (2009), Notasi Pendosa (antologi puisi, 2007), dan Rindu (antologi puisi, 2017). Aktif meneliti, menulis di media massa, pembicara pada berbagai seminar, dan narasumber media elektronik (televisi).

Comments

comments