SALAM LEBARAN YANG TERPAKSA AGAK PANJANG

Acep Iwan Saidi

SALAM LEBARAN YANG TERPAKSA AGAK PANJANG

Situasi agak rumit secara politis di satu sisi, hukum yang harus tegak pada sisi lain, dan iedul fitri yang mesti tetap terjaga kesuciannya, meniscayakan ucapan lebaran ini terpaksa menjadi agak panjang.

Penting ditegaskan bahwa iedul fitri bukan ajang untuk rekonsialisi. Iedul fitri pada mulanya adalah akhir dari religiusitas-islami, puncak dari tanda penghambaan dan penyerahan total kepada Allah Swt dalam bentuk imsyak, menahan diri dari tindakan fisik dan batin yang keluar dari perintah khusus Allah Swt pada bulan Ramadhan.

Didahului hal tersebut, di republik tercinta ini iedul fitri kemudian menjadi Lebaran. Di sini, tanda religiusitas-islami berintegrasi dengan kode budaya. Secara semiotik, indeksikalisasi dari irisan ini adalah “bersalam-salaman”, jabat erat telapak tangan untuk saling memaafkan.

Sementara rekonsiliasi adalah laku politik yang acap melupakan substansi hukum dan kebenaran demi penyembuhan luka politik yang sesungguhnya hanya permukaan. Di situ, rekonsiliaisai justeru cenderung akan membalikkan telapak tangan yang bersalaman dalam lebaran tadi.

Oleh sebab itu, mari tidak menjadikan iedul fitri sebagai medan rekonsiliasi yang hanya menjadi wujud simbolik distribusi dan sirkulasi kekuasaan, sebuah upaya merebut posisi dominan dalam kehidupan berbangsa.

Iedul fitri bukan untuk politik rekonsiliasi.
Taqabballahu minna wa minkum.

Bandung, 1 Syawal 1440 H

(Acep Iwan Saidi)

Comments

comments