Bendera-bendera Bercahaya

Oleh Taufan S. Chandranegara, Praktisi seni.

Sesungguhnya kebaikan tidak pernah pergi. Senantiasa ada, hadir di hati setiap insan di bumi. Jagat raya pun selalu mengolah dirinya untuk perubahan, untuk kemaslahatan ekosistem lebih baik. Meski budaya plastik telah terlanjur mencemari lautan dunia.

Namun alam tetap sunyi, selalu tampak tenang tak menghanyutkan, tetap, meminjamkan matahari-rembulan, bahkan langit tak dikurangi sedikitpun.

Tidak terbayangkan jika jagat raya mencopot langit, maka semesta bagai pakaian memakai kepalsuan. Ozon mati, oksigen tak ada. Angin enggan meniup bendera-bendera, di tiang-tiang tertinggi insan bangsa-bangsa. Mungkin, akan terasa, bagai makhluk, manusia, kehilangan kerabat tercinta.

Itu sebabnya pula, setelah berdoa dengan keyakinan masing-masing untuk keselamatan, baik dalam menimba ilmu maupun mencari rejeki, membangun karir, mencipta kreasi-kreasi, desain-desain hiper-tekno, sains ataupun mengembangkan ilmu pengetahuan sosial. Jangan lupa, sematkan ‘Sang Dwiwarna’ di dada.

Aku Indonesia, terus maju. Aku Indonesia, anti anarkisme. Aku Indonesia, anti korupsi. Aku Indonesia, anti illegal fishing. Aku Indonesia, anti pembalakan liar. Aku Putra dan Putri, penjaga Indonesia.

Seumpama lagi, alam tak mau meminjamkan matahari-rembulan, sudah barang tentu, makhluk di planet bumi akan kehilangan siang ataupun malam. Waktu, bagai menghilang di antara, mungkin, abstraksi tanpa nama, atau warna-warna sekalipun. Karena ruang-ruang, sesungguhnya dibentuk oleh cahaya-cahaya iman terbening dari alam, untuk kehidupan.

Sebagai contoh sederhana. Dalam perhelatan seni drama, tentu memerlukan ruang-ruang pengadeganan, berfungsi menjadi alur perpindahan atmosfer kisah-kisah dalam cerita tuntunan naskah (skenario). Di dalamnya ada babak ke-babak, selanjutnya, untuk menuju epilog dalam teks sastra drama-dimainkan.

Mari, kita duduk bersama di kursi penonton, ketika auditorium gelap. Tak terbentuk ruang apapun, tak terbentuk benda apapun. tak tersirat noktah apapun, ketika sebuah tempat tanpa cahaya, bagai badan tanpa jiwa. Pertanyaannya kemudian. Adakah atau mampukah penciptaan kehidupan pengadeganan di dalam sebuah-frame proscenium, tanpa cahaya apapun, hitam pekat.

Alam raya, memberi kepastian cahaya kehidupan. Ikhlas, penuh warna kasih sayang.

Gelap-terang, merupakan intensitas, diterima oleh gravitasi ataupun hampa, di kehidupan planet-planet tersebut. Kadang sebuah planet atau bintang tampak samar-samar karena hanya menerima bias cahaya. Disanalah lompatan kuantum menentukan pencahayaan, melukiskan segala bentuk kehidupan, demikian pula kaidah pencahayaan-ilmu seni drama, dalam sebuah-frame proscenium.

Ilmu tentang pencahayaan ada pada term of reference-scene designer (skenografi). Ilmu tentang pencahayaan dari hukum-hukum ilahiah ada pada iman masing-masing.

Sang Dwiwarna. Berkibar di nurani setiap insan Indonesia. Adalah cahaya sejati, membentuk jiwa-jiwa kreatif para pelajar, manusia Indonesia, negeri agraris ini. Salam Indonesia Unit.


Selamat Idulfitri 1 Syawal 1440-H 2019. Mohon maaf lahir dan Batin, kepada pembaca, tim editor dan keluarga besar Pribuminews.co.id.

Jakarta, Indonesia, 3 Juni, 2019.

Comments

comments