Keliru Menuduh Masyumi-PSI

Hendrajit Direktur Eksekutif GFI / F0T0 Medita

Hendrajit, Wartawan Senior.

Jadi kalau dibilang para pendukung Prabowo itu persekutuan Masyumi dan PSI (baca: sosdem) itu terlalu menyederhanakan dan mendangkalkan. Sebab kalau era 1950-1970 jadi rujukan buat menggambarkan anatomi pendukung Prabowo sudah kuno dan nggak relevan di dekade 2000an.

Bahkan kalaupun era itu jadi rujukan, banyak kader PSI seringkali hanya memperalat dan memanfaatkan para kader militan Islam yang tergabung dalam Masyumi yang waktu itu unsur NU pun masih banyak yang gabung.

Misalnya dalam pemberontakan PRRI permesta di Sumatra Barat dan Sulawesi Utara, yang banyak ditangkapin adalah kader kader Masyumi seperti M Natsir, Syafruddin Prawira Negara, Abdul Rasyid, Muhammaf Rum, Kasman Singodimejo, Buya Hamka, dll. Memang Sutan Sjahrir yang Ketum PSI juga ditahan. Namun jaringan dan mesin organisasi PSI masih bergerak bebas.

Sedangkan Masyumi dengan ditahannya para pimpinan utamanya, kontan langsung lumpuh gerak organisasinya. Karena jaringan komunitas Islam baik perkotaan maupun pedesaan belum seterorganisir seperti sekarang.

Beda dengan sekarang. Yang praktis kelas menengah muslim sudah terbangun di berbagai profesi dan organ kemasyarakatan. Fenomena emak emak adalah contoh buah dari kerja keras para motor penggerak Islam baik dari Masyumi, Muhammadiyah dan NU.

Di sinilah betapa kelirunya para pakar dalam dan luar negeri yang menyangka, atau pura pura menyangka, bahwa basis pendukung Prabowo masih eksklusif persekutuan Masyumi-PSI.

Mengapa keliru? Karena komunitas Islam sudah meluas spektrum maupun lingkupnya. NU, Muhammadiyah dan Masyumi sudah mengalami transformasi dari dalam.

Din Syamsudin yang berkiprah di Muhamadiyah sejatinya tetap NU tulen, dan menjadi kader hibrida yang mampu mendinamisir muhamadiyah dan nu. Sehingga di era Din dan Hasyim Muzadi, NU-Muhammadiyah bisa sinergi buat kemajuan umat dan bangsa.

Nah, kebangkitan Islam yang meluas dan mengembang inilah, yang menakutkan kekuatan kekuatan mapan, termasuk Sosdem di dalamnya.

Menyadari tren ini, beberapa pakar luar dan dalam negri coba membangun opini untuk mengerdilkan basis sosial pendukung Prabowo dengan membranding bahwa Prabowo Sandi bertumpu pada persekutuan Masyumi-PSI.

Adapun tujuan strategisnya ada dua. Pertama memberi kesan Prabowo cuma didukung Islam Masyumi. Padahal nyatanya Prabowo didukung basis Islam modern maupun tradisional dari berbagai mahzab dan aliran.

Kedua, mengondisikan kader kader muda sosdem yang diremot para senior, agar punya celah masuk ke lingkar jantung atau kelompok inti politik Prabowo.

Padahal kalau kita bedah jeroan PSI sejak PRRI, Prabowo adalah ahli waris Sumitro Djojohadikusumo, ayahandanya, yang keluar dari PSI krn menentang kebijakan strategis Sutan Sjahrir yang menyebabkan PSI jadi ekslusif dan tidak mengakar di masyarakat. Sehingga jadi partai gurem pada pemilu 1955.

Prabowo adalah ahli waris ayahnya, yang dapat hidayah politik. Bahwa kunci agar sosialisme ala Indonesia berhasil, yang harus dikembangkan adalah nasionalisme yang bertumpu pada ukhuwah Islamiyah. Sehingga ujungnya adalah persenyawaan antara Islam dan Nasionalisme.

Inilah kenyataan politik yang para pendukung Prabowo seperti Maher Algadri menyadari bshwa Prabowo kali ini tidak bisa mundur ke belakang. Atau kompromi. Amanah 70 juta orang yang disebut Maher sebagai pendukung Prabowo, bukan Islam masyumi. Itu adalah persenyawaan Islam dan nasionalisme.

Maka itu Mentalitas PSI Lama yang masih bercokol di Gerindra dan bahkan ring satu Prabowo, adalah musuh dalam selimut. Yang bukan saja menghancurkan Prabowo. Tapi juga merusak persenyawaan Islam dan Nasionalisme

Ketakutan dan ambisi kekuasaan dari kelompok mapan inilah, kemudian gulirkan isu Masyumi -PSI. Padahal buat Sumitro dan Prabowo merupakan sesuatu yang masuk musium. – PRIBUMINEWS.CO.ID

Comments

comments