PILPRES CURANG, RAKYAT DIAM. ADA APA?

by Tarmidzi Yusuf

Aneh bin ajaib Pilpres 2019. Yang menang bisa kalah dan yang kalah bisa dimenangkan. Pemilu paling ajaib di era reformasi. Semua institusi kompak bagai paduan suara mengawal yang kalah menjadi pemenang. Sementara yang dikalahkan bagaikan “terpidana” divonis kalah. Dipaksa mengakui kekalahan.

Yang lebih aneh lagi adalah diamnya rakyat. Terpolarisasi dalam berbagai kelompok mensikapi hasil Pilpres 2019:
Kelompok pertama, menganggap kecurangan sebagai hal biasa, tidak perlu direspon karena telah dilegalkan oleh KPU dan MK. Sehingga secara otomatis kecurangan dianggap tidak ada karena telah memiliki legal formal di depan hukum. Kelompok ini menganggap bahwa yang gembar-gembor tentang narasi kecurangan sebagai kelompok yang tidak mau mengakui kekalahan, tidak ksatria dan tidak legowo.

Kelompok kedua, menganggap Pilpres 2019 sebagai Pilpres paling curang sejak era reformasi. Kelompok ini menuntut keadilan dan kejujuran dari lembaga penyelenggara Pemilu untuk secara adil, jujur dan fair membuktikan kebenaran hasil Pilpres 2019 melalui audit forensik dengan dibentuknya TGPF Pilpres 2019 secara independen.

TGPF Pilpres 2019 bekerja untuk menuntaskan kecurangan Pilpres, baik data DPT yang valid, kesesuaian angka C1 dan C7, penggelumbungan suara, perusakan C1 Plano hingga menuntaskan kematian massal 700 orang lebih petugas KPPS.

Kelompok kedua ini merupakan mayoritas dari pemilih dan pendukung Prabowo-Sandi yang terfragmentasi dalam berbagai kelompok juga. Kelompok yang kecewa berat sehingga bersikap antipati dan tak peduli terhadap hasil Pilpres yang dianggap curang. Kelompok ini siap “bergerak” jika ada komando perlawanan terhadap gugatan hasil Pilpres yang secara konstitusional telah tertutup rapat melalui parlemen jalanan. Kelompok ini masih eksis walaupun telah bertransformasi dalam beberapa organisasi.

Kedua, kelompok yang kecewa tapi menarik diri dari organisasi dan group sosial media relawan Prabowo-Sandi. Kelompok ini cenderung pasif dibandingkan kelompok pertama. Walaupun masih tetap setia berjuang seandainya ada pergerakan massa.

Ketiga, kelompok yang menarik diri secara total dari simpul-simpul relawan Prabowo-Sandi sebagai akibat dari kekecewaan hasil Pilpres curang dan sikap politik Prabowo-Sandi pasca putusan MK.

Kalau kita telusuri lebih jauh, rakyat saat ini pasif dan diam dalam merespon hasil Pilpres yang ditetapkan oleh KPU dan MK. Ada beberapa sebab pasif dan diamnya rakyat:
Pertama, banyaknya para tokoh dan aktivis yang pro Prabowo-Sandi ditangkap dan dikriminalisasi. Para tokoh dan aktivis tersebut setelah bebas dari jeratan hukum cenderung tidak bersuara lagi. Ada apa? Mungkinkah mereka ditekan atau ada deal-deal tertentu? Wallahu Ta’ala A’lam.

Kedua, kerusuhan 21-22 Mei yang banyak menelan korban jiwa setidak-tidaknya telah membuat tuntutan terhadap Pilpres jujur dan adil meredup. Apalagi kerusuhan tersebut berasal dari massa diluar massa aksi 21-22. Massa yang hadir setelah bubarnya aksi menyerang aparat keamanan. Ada kesan massa tersebut sengaja dibenturkan dengan aparat sebagai provokasi antara aparat dengan peserta Aksi 21-22.

Ketiga, ancaman dari aparat keamanan untuk menangkap dan memenjarakan setiap warga negara yang mengatakan Pilpres curang, baik disampaikan oleh Menko Polhukam maupun KSP. Hukum telah digunakan untuk menekan oposisi. Aparat negara menjelma menjadi aparat penguasa. Hukum negara menjelma menjadi hukum penguasa. Sehingga rakyat tidak bisa menuntut keadilan dan kejujuran dari proses demokrasi yang berlangsung.

Keempat, hilangnya komando dalam menggerakkan massa membuat perjuangan menuntut kedaulatan rakyat tak terdengar lagi. UBN dan UAS menyusul HRS pergi ke luar negeri. Praktis massa kehilangan figur untuk bergerak.

Inilah ucapan terbaik kita, qadarullah wa maa sya’a fa’al. Qadarullah (Ini adalah takdir Allāh), dan apa yang Dia kehendaki, Dia lakukan.” Pemimpin itu cermin rakyatnya. Seandainya yang jadi pemimpin dari proses curang, sesungguhnya itu cermin rakyatnya yang curang.

Ibnu Qayyim Al Jauziyah rahimahullah mengatakan,

وتأمل حكمته تعالى في ان جعل ملوك العباد وأمراءهم وولاتهم من جنس اعمالهم بل كأن أعمالهم ظهرت في صور ولاتهم وملوكهم فإن ساتقاموا استقامت ملوكهم وإن عدلوا عدلت عليهم وإن جاروا جارت ملوكهم وولاتهم وإن ظهر فيهم المكر والخديعة فولاتهم كذلك وإن منعوا حقوق الله لديهم وبخلوا بها منعت ملوكهم وولاتهم ما لهم عندهم من الحق ونحلوا بها عليهم وإن اخذوا ممن يستضعفونه مالا يستحقونه في معاملتهم اخذت منهم الملوك مالا يستحقونه وضربت عليهم المكوس والوظائف وكلما يستخرجونه من الضعيف يستخرجه الملوك منهم بالقوة فعمالهم ظهرت في صور اعمالهم وليس في الحكمة الالهية ان يولى على الاشرار الفجار الا من يكون من جنسهم ولما كان الصدر

“Sesungguhnya di antara hikmah Allah Ta’ala dalam keputusan-Nya memilih para raja, pemimpin dan pelindung umat manusia adalah sama dengan amalan rakyatnya bahkan perbuatan rakyat seakan-akan adalah cerminan dari pemimpin dan penguasa mereka. Jika rakyat lurus, maka akan lurus juga penguasa mereka. Jika rakyat adil, maka akan adil pula penguasa mereka. Namun, jika rakyat berbuat zholim, maka penguasa mereka akan ikut berbuat zholim. Jika tampak tindak penipuan di tengah-tengah rakyat, maka demikian pula hal ini akan terjadi pada pemimpin mereka. Jika rakyat menolak hak-hak Allah dan enggan memenuhinya, maka para pemimpin juga enggan melaksanakan hak-hak rakyat dan enggan menerapkannya. Jika dalam muamalah rakyat mengambil sesuatu dari orang-orang lemah, maka pemimpin mereka akan mengambil hak yang bukan haknya dari rakyatnya serta akan membebani mereka dengan tugas yang berat. Setiap yang rakyat ambil dari orang-orang lemah maka akan diambil pula oleh pemimpin mereka dari mereka dengan paksaan.

Dengan demikian setiap amal perbuatan rakyat akan tercermin pada amalan penguasa mereka. Berdasarkah hikmah Allah, seorang pemimpin yang jahat dan keji hanyalah diangkat sebagaimana keadaan rakyatnya. Ketika masa-masa awal Islam merupakan masa terbaik, maka demikian pula pemimpin pada saat itu. Ketika rakyat mulai rusak, maka pemimpin mereka juga akan ikut rusak. Dengan demikian berdasarkan hikmah Allah, apabila pada zaman kita ini dipimpin oleh pemimpin seperti Mu’awiyah, Umar bin Abdul Azis, apalagi dipimpin oleh Abu Bakar dan Umar, maka tentu pemimpin kita itu sesuai dengan keadaan kita. Begitu pula pemimpin orang-orang sebelum kita tersebut akan sesuai dengan kondisi rakyat pada saat itu. Masing-masing dari kedua hal tersebut merupakan konsekuensi dan tuntunan hikmah Allah Ta’ala.[Lihat Miftah Daaris Sa’adah, 2/177-178]

|PRIBUMINEWS.CO.ID

Comments

comments