JOKOWI VS MEGAWATI, SIAPA YANG DIUNTUNGKAN?

by Tarmidzi Yusuf

Tulisan ini mungkin rada aneh. Koq… Jokowi melawan Megawati. Bukankah Jokowi itu Presiden yang ditugaskan PDIP. Petugas partai berarti pula ditugaskan Megawati. Kenapa tiba-tiba seperti sedang berhadap-hadapan?

Salahsatu bentuk perlawanan Jokowi terhadap Megawati adalah amandemen terbatas UUD 1945 khususnya tentang GBHN. Kita lihat statement Jokowi tentang amandemen. Dia khawatir amandemen UUD 1945 berujung pada kembalinya presiden dan wakil presiden dipilih oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat ( MPR).

“Itu saling kait mengait. Kalau GBHN dikerjakan oleh MPR, artinya presiden mandataris MPR. Kalau presiden mandataris MPR, artinya presiden dipilih oleh MPR,” kata Jokowi dalam acara satu meja di Kompas TV, Rabu (21/8/2019).

Bentuk perlawanan Jokowi selanjutnya adalah tentang konfigurasi “kabinet 2019-2024”. Adanya perebutan pengaruh antara kubu Megawati melawan kubu jenderal merah. Seperti kita ketahui, para jenderal merah ini bukan Ketua Umum partai tapi punya pengaruh yang luar biasa terhadap Jokowi. Hanya 1 orang masih tercatat sebagai Ketua Umum partai. Kubu jenderal merah konon punya dukungan dana tidak terbatas dan dukungan dari Cina dan Amerika. Jangan heran banyak tokoh Islam baik yang berpedikat cendekiawan maupun “Ulama” sudah mereka beli. Tokoh Islam ini sering menyerang ummat Islam dan bungkam ketika orang non Islam berbuat makar dan radikal.

Tentu kita masih ingat, ketika kabinet 2014 baru terbentuk. Ketika itu yang menjadi Sekretaris Kabinet Andi Widjajanto anaknya Theo Syafei sebelum diganti Pramono Anung. Saat itu ada ketegangan yang luar biasa, sampai-sampai tertutupnya akses Megawati ke Jokowi. Akhirnya Andi Widjajanto terpental dari kabinet. Pada Pilpres 2019 Andi Widjajanto Ketua Tim Cakra 19 bentukan Luhut Binsar Panjaitan.

Isu pergantian Menteri BUMN Rini Soemarno atas permintaan Megawati sampai hari ini gagal. Menurut sebuah sumber ada kekuatan jenderal merah dan pengusaha cina yang mengakibatkan Rini Soemarno tetap bertahan hingga hari ini.

Termasuk gagalnya BG jadi Kapolri. Rumornya, kegagalan BG jadi Kapolri yang didukung penuh oleh Megawati dan PDIP adalah permainan dari kubu jenderal merah. Mereka tidak mau kubu Megawati punya pengaruh besar di depan Jokowi. Kubu jenderal merah ingin menjadi kekuatan yang sangat berpengaruh terhadap Pemerintahan Jokowi. Warna Pemerintahan Jokowi 2014-2019 adalah “warna” jenderal merah.

Terbelahnya kekuatan Megawati dan jenderal merah menjelang bulan Oktober 2019 makin panas. Banyak pihak menyebut kasus black out PLN dan Kasus Papua merupakan salahsatu ekses dari terbelahnya dua kekuatan di lingkaran Jokowi. Kasus Papua telah merontokkan pencitraan Jokowi ke titik terendah.

Perebutan pengaruh dalam penyusunan “kabinet 2019-2024” setelah dimenangkan oleh KPU dan MK. Kubu Megawati menghendaki posisi strategis di kabinet mereka pegang. Sementara kubu jenderal merah tidak rela bila Jokowi berada dalam “genggaman” kubu Megawati. Dari sinilah tarik menarik itu dimulai, bahkan bisa mengancam NKRI dengan diangkatnya isu separatis, ras dan agama.

Keterbelahan dua kubu ini merembes ke partai koalisi Jokma. Ada yang berada di kubu jenderal merah seperti NasDem dan partai gagal ke Senayan, PSI. Ada pula yang berada di kubu Megawati seperti PDIP. Sedangkan PKB, PPP dan Golkar belum secara tegas berada di kubu mana. PKB pasca muktamar masih “abu-abu”. Sedangkan Golkar akan berada di kubu jenderal merah seandainya Airlangga Hartarto masih menjadi Ketua Umum. Hiruk pikuk Golkar tidak terlepas dari tarik menarik antara dua kubu tersebut. Sebaliknya jika Bambang Soesatyo yang terpilih menjadi Ketua Umum banyak pihak meramalkan Golkar akan merapat ke kubu Megawati.

“Periode kedua” Jokowi walaupun kontroversial karena ditengarai produk pilpres curang. Apalagi Ijtima Ulama ke IV tidak mengakui kemenangan Jokowi akan jadi batu sandungan bagi Jokowi bila tetap berhadap-hadapan dengan kubu Megawati. Akan mudah dikapitalisasi untuk merepotkan berjalannya Pemerintahan. Isu Papua dan demo warga Papua di Istana Jakarta beberapa hari lalu menjadi tanda tanya besar adanya permainan untuk memperebutkan pengaruh ke Jokowi. Kasus black out PLN dan Papua menunjukkan bahwa mereka masih kuat, tidak bisa dianggap sepeleh. Isu separatis khususnya Papua akan dimainkan oleh kubu jenderal merah berkonspirasi dengan China, Amerika dan Australia untuk menekan Jokowi. Bila tidak bisa mengelola dengan baik, Papua benar-benar terlepas dari Indonesia. Tidak menutup kemungkinan Indonesia mengikuti Uni Soviet dan Yugoslavia pecah menjadi beberapa negara. Ancaman disintegrasi akan menggulung Jokowi menuju kejatuhan.

Awal kejatuhan Jokowi selain isu separatis, juga gagalnya isu Ibu Kota pindah ke Kalimantan karena ditolak DPR dan krisis ekonomi menghantui Indonesia seperti pernah disampaikan oleh Menteri Keuangan SMI.

Semoga Allah subhanahu wata’ala memberikan hidayah kepada Megawati dan Jokowi agar tidak dimanfaatkan oleh jenderal merah yang punya agenda politik sendiri dengan memecah belah sesama anak bangsa, Aamiin

Allah azza wajalla berfirman Surat al-Ankabuut ayat 41-44:

مَثَلُ الَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِ اللَّهِ أَوْلِيَاءَ كَمَثَلِ الْعَنْكَبُوتِ اتَّخَذَتْ بَيْتًا وَإِنَّ أَوْهَنَ الْبُيُوتِ لَبَيْتُ الْعَنْكَبُوتِ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ (41) إِنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ مِنْ شَيْءٍ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ (42) وَتِلْكَ الْأَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ وَمَا يَعْقِلُهَا إِلَّا الْعَالِمُونَ (43) خَلَقَ اللَّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِالْحَقِّ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَةً لِلْمُؤْمِنِينَ (44)

Artinya:

( 41 ) Perumpamaan orang-orang yang menjadikan selain Allah sebagai pelindung adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah adalah rumah laba-laba seandainya mereka mengetahui

( 42 ) sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang mereka seru selain Allah. Dan Dia maha perkasa lagi maha bijaksana

( 43 ) dan perumpamaan-permpamaan ini kami buat untuk manusia, dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu

( 44 ) dan kami menciptakan langit dan bumi dengan hak. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang mukmin

Bandung, 25 Dzulhijjah 1440/26 Agustus 2019

Comments

comments