KESAKTIAN ATAU KESAKITAN

M Rizal Fadillah

by M Rizal Fadillah

Menyedihkan berganti waktu ke tanggal 1 Oktober ini, membaca ulang berita medsos dan media cetak tentang aksi mahasiswa dan pelajar tanggal 30 September. Aparat yang brutal atau beringas menangani pengunjuk rasa. Memukul dan menendang bahkan mencekik. Ambulance pulang pergi dari lokasi ke rumah sakit. Ratusan luka luka ringan berat. Mata pedih karena gas air mata, konon ada yang luka melepuh segala seperti terkena zat kimia.

Di hari kesaktian Pancasila ini ratusan orang sedang berada di rumah sakit akibat berbagai “senjata” penanganan demo. Di Wamena lebih parah lagi. Pancasila sedang jadi bulan bulanan seperti tak ada tuhan, tak beradab, separatisme, hikmah bijaksana dikalahkan “kanibalisme”, serta keadilan yang hanya berlaku untuk etnis tertentu. Pancasila tidak memadai dibela oleh aparat yang konon gagah dan hebat. Wamena saksi lemahnya penanganan, sebaliknya aksi terhadap mahasiswa dan pelajar di Jakarta dan daerah daerah lain menjadi saksi kedigjayaan dan keberingasan aparat.

Di hari kesaktian Pancasila ideologi negara tidak berdaya. Fungsi ideologi terpapar kepentingan politik pendek. Cara penanganan aksi di Jakarta atau di daerah dengan di Papua sangat berbeda. Tapi keduanya sama pada tataran tersakitinya ideologi Pancasila. Kasus Wamena tak bisa dilepaskan dari kepentingan asing. Ini rupanya yang membuat “takut” Pemerintah. Sangat hati-hati sekali sebab mungkin jika salah langkah, referendum Papua bisa masuk agenda PBB. Sementara unjuk rasa di Ibukota dan daerah daerah bisa dilokalisasi. Oleh karena itu Pemerintah berani bertindak “keras”. Ini diskriminatif dan pengecut.

1 Oktober sudah hilang dari agenda peringatan kenegaraan sebagai Hari Kesaktian Pancasila. Sejalan dengan ingin dihilangkannya memori G 30 S PKI. Aneh juga menjadi gelisah dan dianggap mengganggu rezim.
Ketika Pancasila dinilai tidak penting artinya posisinya menjadi mengambang. Sekularisme, hedonisme atau materialisme atau bisa jadi komunisme sedang menancapkan kuku ke Republik ini.

Papua dan aksi mahasiswa secara tak langsung menjadi “touch stone” bagi arah politik rezim. Cara menangani memberi warna. Yang jelas Pancasila sedang dianggap tak sakti lagi. Janganlah kita mengubah makna kesaktian Pancasila menjadi kesakitan Pancasila. Stop memporak porandakan dengan brutal atau beringas. Negeri ini dimerdekakan dan dipertahankan dengan harga mahal. Nyawa dan harta.

*) Pemerhati Politik

Bandung 1 Oktober 2019

Comments

comments