OPTIMISME DITENGAH KESULITAN

M Rizal Fadillah

by M Rizal Fadillah

Situasi senantiasa problematik. Hal hal baik yang diharapkan kadang seperti menjauh. Beban terasa berat. Tekanan dari berbagai sisi menguat dan menyesakkan. Iklim ekonomi mencekik diri dan lingkup negeri. Bukan bahagia tetapi pajak dan tarif yang meningkat. Kultur politik semakin hegemonik. Kekuasaan seperti hanya milik sekelompok orang yakni lingkaran penikmat. Rakyat pasrah digiring kesana kesini menjadi gembalaan yang semakin tak bermartabat. Kehidupan beragama penuh kecemasan karena agama dianggap bahaya. Ketaatan identik dengan radikal dan tak bertenggang rasa. Membangun persaudaraan dianggap mengancam tatanan. Agama adalah musuh negara bersenjata dogma. Parah sekali bacaan penguasa yang buta.

Umat dan masyarakat mengalami kesulitan yang sangat dimana berbicara keadilan dianggap memecah persatuan. Kebenaran semata nilai nilai yang dirumuskan oleh elit penguasa. Menyuarakan kejujuran dan kebenaran tidak leluasa. Terjepit di tengah aturan yang memperkosa. Aturan yang dibuat untuk melindungi sifat rakus dan nyaman dalam mencuri harta negara.
Demi kestabilan, demi pembangunan, dan demi investasi kaum penjajah, maka alat negara diarahkan dan dikerahkan untuk mengawal kejahatan terselubung. Korupsi dan manipulasi yang menggilas bangsa sendiri.

Semua menjadi ujian keimanan. Benarkah kebenaran sedang diperjuangkan atau kepura puraan untuk keuntungan materi yang sedang dinegosiasi. Jika keimanan sebagai landasan, tentu kesulitan hanya kausa dari akibat kebahagiaan dan kemenangan yang dekat dekat saja waktunya. Allah telah mengingatkan.

“Apakah kamu mengira bahwa akan masuk surga, padahal belum datang (cobaan) seperti orang orang terdahulu sebelum kamu. Mereka ditimpa kesulitan, penderitaan, dan diguncang (dengan berbagai cobaan) sehingga Rosul dan orang orang beriman berkata “Kapankah datang pertolongan Allah ?” Ingatlah sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat” (QS 2:214).

Tidaklah kemenangan didapat dengan bersantai dan berjuang sekedarnya. Tekanan dan kesulitan adalah sinyal akan tiba pertolongan Allah. Optimisme perlu terpancar di saat menghadapi keputusasaan. Begitu hukum ilahi.

Nah ketika kekuasaan merasa di atas angin. Bisa berbuat apa saja. Melumpuhkan siapa saja. Jaringan semua sudah dikuasai. Senjata tak tertandingi. Perintah telah menjadi hukum. Kezaliman dibahasakan keadilan. Potensi perlawanan strategis telah dikendalikan dan dilemahkan. Pejuang kemerdekaan tinggal sedikit dan itupun berserakan. Dinistakan dan tak diperhitungkan. Seolah semua sudah berada dititik nadir kehancuran.

Maka itulah saat atau momen pertolongan Allah “alaa inna nashrallahi qariib”. Allah membantu para penolong-Nya. Penguasa zalim rontok. Para diktator jatuh dan menjadi pesakitan. Kelompok mapan bergelimpangan kehilangan kekuasaan dan kekayaan. Kejayaan mulai dipergilirkan. Mereka yang tertawa di singgasana kini menangis mengais ngais belas kasihan. Macan telah berubah jadi katak. Yang hanya bisa melompat lompat.
Waktu untuk berdusta dan menyakiti rakyat telah usai. Insya Allah.

*) Pengamat Politik dan Keagamaan

Bandung, 15 Oktober 2019

Comments

comments