Prasangka Buruk dan Negative Thinking

Hendrajit Direktur Eksekutif Global Future Institute

Bahwa ada beberapa relawan Jokowi nggak suka Prabowo, itu bukan berita lagi. Ketika wacana Prabowo mau dijadikan Menhan bergulir, dan mereka keberatan, itu pun wajar dan masuk akal.

Tapi ketika mengajukan dalih yang bersifat mencurigai akan jadi musuh dalam selimut, nah buat saya ini problem besar. Karena ini berasal dari prasangka buruk dan negative thinking.

Selain itu juga karena nggak ngerti persoalan. Seperti mengaitkan gagasan triumvirat Mendagri, Menhan dan Menlu, sebagai sarana kudeta terhadap presiden dan wakil presiden. Menurut saya itu khayali tingkat dewa.

Di Indonesia, kalaupun mau lengserkan presiden, nggak pernah kepikiran menggunakan mekanisme triumvirat. Paling lewat peralihan ke wapres sbg pelaksana tugas presiden. Untuk kemudian digelar sidang istimewa. Itulah yang terjadi pada 1998.

Pada 1966-1967, pak Harto bersama sri sultan hb IX dan adam malik, memang merupakan presidium. Tapi gagasan dasarnya bukan model Triumvirat ala Mendagri-Menhan-Menlu. Tetap saja substansinya lewat sidang istimewa MPR.

Jadi menurut saya pikiran negatif kayak gitu bikin bangsa ini nggak berkembang maju dan memandang ke depan. Bukannya waspada tapi waswas alias paranoid. Memangnya gampang mainkan skenario kudeta lewat triumvirat? Apalagi kalau mendagri dan menhannya nggak kompak atau satu kubu.

Pada jaman Suharto, Benny Murdani sebagai Menhan pernah ngajak Mendagri Rudini untuk ambil alih kekuasaan. Tapi setelah Rudini pelajari, skenarionya nggak masuk akal. Rudini menolak ikutan.

Atau jangan-jangan memang ada yang ngarep begitu ya. Dengan pura puranya ide itu akan muncul dari Prabowo. Padahal justru dari dia dia orang juga.

Hendrajit, Pengamat politik Global Future Institute (GFI)

Comments

comments