Sebuah Esai: Angan-angan di Kurva Horizon

Oleh: Taufan S. Chandranegara

Tujuh Belas Ribu Pulau lebih. Terikat kuat, menyatu, utuh bersatu, oleh semangat ‘Soempah Pemoeda’, sebuah negeri kaya ragam pesona budaya multi kultur.

Bangga menjadi Indonesia-Negara Kesatuan Republik Indonesia-NKRI. Nun di sana di sudut-sudut kaki langit terjangkau, meskipun belum pernah melihat batas-batas Negeri Indah ini. Ingin nan rindu mengapung di awan-awan impian semusim, hingga usai waktu ini tak jua sampai di sana. Rindu…

Angan-angan ke tapal batas dekat itu. Kelihatan langitnya, tapi tak tampak saudaraku di sana, dari sini. Hanya kabar dari burung-burung Rajawali Emas, nan indah membawa pesan, bahwa, ada, saudaraku di batas wilayah negeri ini, dekat selalu dengan angan-angan ingin berjumpa, bercengkerama tentang matematika, budi pekerti bahasa, prakarya, menggambar indahnya pepohonan, hutan-hutan perbatasan Negeri Nyiur Melambai.

Sebuah kabar, sebersit berita, menggembirakan perasaan surgawi bahwa di tapal batas dekat itu, ada pengabdian para Guru berkomitmen setia hati, mengajar para Ananda, saudara kami, sama persis dengan kami, sedang belajar di dalam kelas, sedang berhitung perkalian angka-angka, sama persis dengan di sini, bahkan memiliki rasa cinta pada Sang Dwiwarna, melebihi apapun, mereka ingin terus belajar, berpendidikan, itu, cita-cita hebat nian.

Tak sulit, tak mahal benar, hanya, wajib terus menciptakan kesetaraan pendidikan di tapal batas dekat itu, tak jauh dijangkau oleh kasih sayang, setulus cinta bagi pemerataan pendidikan di sekolah-sekolah sederhana, bersama buku-buku, sama persis dengan di sini. Takkan sebanding jika diukur dengan biaya ‘perhelatan formal mahal’, seharusnya mampu, menjangkau kesetaraan pendidikan di tapal batas dekat itu.

Di sini juga Indonesia, katamu suatu kali di surat untukku di impian seakan aku di sana. Kita berlari ke lereng-lereng bukit hijau dalam realitas suci persaudaraan, aku terjatuh ketika menuruni bukit itu, kau segera menolongku, memetik beberapa daun membalut luka goresan di lututku. Ada kelapa muda kau berikan padaku, sisa airnya setelah aku minum, kau teteskan di permukaan daun penutup lukaku.

Sebuah impian saudaraku. Dalam syair nyanyian ‘Tanah Airku’ ditulis oleh pahlawan pendidikan Saridjah Niung Bintang Soedibjo, dikenal sebagai Ibu Soed, terus mengumandang, kangenku kepadamu semakin bertumbuh ingin berlari menjenguk seluruh tapal batas negeriku, tak ingin tali terikat persaudaraan terputus, menjadi kisah-kasih tak sampai.

Di surat terakhimu dimimpiku, kau bilang sedang upacara Bendera Ulang Tahun Negeri kita. Ya. Aku dengar suara merdu dari sudut-sudut kaki langit, lagu kebangsaan ‘Indonesia Raya’ memenuhi angkasa Indonesia.

Doaku untukmu saudaraku di tapal batas dekat itu. Sehat selalu untuk semua keluarga di sana, bersama kita menanam benih, menumbuhkan cinta bertumbuh kasih sayang, bersama Sang Dwiwarna.

Terima kasih, saudaraku nun di tapal batas negeri indah ini, kita saling berjabat tangan erat dari kejauhan di batas angan-angan kurva horizon, setulus nurani bening, dalam ikatan persatuan kuat Sumpah Pemuda. Salam Indonesia Maju-Bersatu.

Jakarta, Indonesia, 28 Oktober 2019.

Comments

comments