Diskusi Akhir Tahun Kebangsaan: “Indonesia Milik Kita Atau Milik Siapa?

JAKARTASATU.COM – Generasi Cinta Negri (GENTARI) menggelar  diskusi Kebangsaan Ahir tahun bertajuk “Indonesia milik kita, Atau milik siapa”?

Sebagai Keynote Speaker adalah Rahmawati Sukarnoputri dengan narasumbernya Dr.Fadli Zon (mantan Wakil Ketua DPR-RI 2014-2019) Hendrajit (Pengamat Geopolitik), Salamudin Daeng (Pengamat Ekonomi) moderator dipandung sang Sekjen Gentari Aminuddin. Acara berlangsung pada Jumat  27/12/19 Restoran Raden Bahari,Jalan Warung Buncit Pancoran Jakarta Selatan.

Dalam sambutan acara ketuan Gentari Habib Umar Alhamid menyampaikan agara Bangsa ini tidak kelihangan, maka di Jumat ahir tahun ini kami gelar di diskusi ini. “Kita ingin sejarah panjang berdirinya republik Indonesia tidak bisa lepas dari keanekaragaman yang bersatu. Dari multi Agama, adat,budaya, etnis, suku,bahasa dan kerajaan-kerajaan yang terdiri dari para sultan,” ujar Habib Umar.

Dalam sejarahnya mereka sepakat mendirikan Indonesia raya agar menjadi maju, modern dan sejahtera. Namun pada kenyataanya, Indonesia bergerak sangat lambat dan jauh dari sejahtera. Indonesiabmilik kita atau milik siapa, kita semua sudah tahu jawabanya.Hanya saja orang lebih banyak menahan diri untuk bicara dan teriak kalau kekayaan alam negaranya sudah banyak yang tergadai oleh bangsa asing, haknya banyak dirampas,dan ketidakadilan yang makin timpang. Hutang yang menumpuk, korupsi yang akut, narkoba yang terus menggerogoti generasi muda, memberikan indikasi pada sebuah realitas kondisi Indonesia saat ini.

Ditambahkan AMinuddin bahwa iklim demokrasi belum menjamin sepenuhnya atas warganegaranya dalam menyampaikan pendapat di muka umum,  Masih terjadi tebang pilih dalam berbagai kasus hukum. Banyak pembiaran terhadap pelanggaran konstitusi. Politik adu domba dan bekah bambu masih sering menjadi kenyataan poltik
“Kekayaan segelintir pengusaha yang dihasilkan oleh sistem oligarki dari hasil uang rakyat masih sangat menyolok, Kasus BLBI gate, century, kartel oil dan gas,kondensat, terahir kasus Jiwasraya dan mega korupsi lain-lain tidak kunjung dituntaskan dan terkesan lempar batu sembunyi tangan,” jelasnya.

Pengelolaan ekonomi yang buruk harus diselesaikan dengan revolusi tata kelola keuangan negara yang baik. Pemerintah harus sering membuka ruang diskusi dengan rakyat, dengan pengusaha agar disparitas kaya – miskin tidak semakin melebar, belum lagi pelanggaran hukum dan Ham harus diadili dan di usut tuntas secara adil dan bijaksana

“Harusnya Indonesia harus berperan aktif dalam isu-isu dunia, ikut menjadi pelopor perdamaian dunia atas ketidakadilan dan tragedi-tragedi yang menimpa dibelahan dunia diantaranya adalah pendudukan Israel atas tanah Palestina dan kasus pelanggaran serius pemerintah tingkok di Uighur,” tegasnya.

Dalam acara ini Rahmawati Soekarnoputri juga menyampaikan kondisi Indonesia saat ini seperti Zaman bung karno karena di himpit oleh kepentingan asing, yang lebih jelasnya kepentingan USA dan China.

“Bahwa kemajuan ekonomi cina sudah diprediksi dari zaman dahulu, bahwa akan abangsa kuning (Kulit kuning ) setelah USA berkuasa lama,” Jelas Rahmawati.

Sementara itu Fadli Zon, mengatakan bahwa “sila ke lima belum sepenuhnya di laksanakan dengan baik, terbukti dari carut marutnya pengurusan BPJS yang mengurusi kesehatan rakyat. “Harusnya Anggaran kesehatan 5% dari APBN, kurang lebih 100 trilyun rupiah untuk rakyat Indonesia, dan masih banyak lagi masalah sosial yang belum diselesaikan dengan baik oleh pemerintah saat ini,” jelasnya.

Ditemoat yang sama Hendrajit melihat geopolitik kita menjadi sangat lemah karena kita tidak membaca kekuatan yang akan dimanfaatkan negara lain. “Kita berpikir pramatis ada investasi, padahal kedepannya ini akan merugikan bangsa ini,” paparnya.

Hendrajit mengambarkan investasi RRC di Bitung, atau isu yang dimainkan di Madura, padahal di isu itu memainkan akan pengambilam isi alam kita di Madura yang penuh minyak yang cadangannya sangat tinggi.

Sedangkan padangan Salamudin Daeng dalam diskusi “Indonesia milik kita, Atau milik Siapa”?

Saat ini kita sedang tak tentu arah. Yang pasti adanya kasus-kasus ini karena kita terlalu banyak Hutang. Jika 98 ada banyak yang membantun lewat SUN, surat utan negara kini mereka tak mau gelontorkan itu dana. “Kita dalam hal ini pemerintah sedang krisis dan dunia juga tak mau rugi jika bantu Indonesia yang tak jelas arah kebijakan ekonominya,” Daeng.|AME

Comments

comments