NATUNA MENJAGA KEDAULATAN NEGARA DALAM PERGAULAN INTERNASIONAL

NATUNA
MENJAGA KEDAULATAN NEGARA DALAM PERGAULAN INTERNASIONAL
Suchjar Effendi *)

Tidak terbayangkan oleh negara-negara lain di dunia, bagaimana Indonesia yang memiliki luas lebih dari 1,9 juta km2 dan 17.000 pulau beserta beragam suku bangsa dan bahasa dapat bertahan selama 74 tahun. Sebuah prestasi luar biasa! Dengan segala kekuatan dan kelemahannya, Indonesia masih tegak sebagai sebuah negara yang utuh dan berdaulat. Bahkan bisa memainkan perannya dalam pergaulan internasional. Berbagai pengalaman pahit telah kita lalui, baik pemberontakan, terjadinya kerusuhan di beberapa daerah dan terorisme. Ancaman dari luar juga bisa kita atasi dengan baik. Kita bahkan beberapa kali mengirimkan pasukan perdamaian ke negara-negara yang tengah dilanda konflik.

Merawat dan Menjaga Kedaulatan

Namun dengan segala macam keberhasilan yang telah kita capai, hendaknya jangan sampai kita menjadi pongah dan besar kepala, seolah-olah kita ini bangsa paling hebat di kawasan ini. Indonesia bukan satu-satunya negara yang ada di dunia atau di kawasan ini. Ada banyak negara tetangga. Jangan sampai Indonesia terjerumus ke dalam semangat nasionalisme sempit, atau bahkan menjadi bangsa yang chauvisnistik.

Di sisi lain jangan lengah menjaga kedaulatan negara, karena kita tidak merawatnya dengan baik. Indonesia bisa kehilangan atau berkurang luas wilayahnya. Misalnya, kasus hilangnya Pulau Sipadan dan Ligitan, karena kita lengah dan tidak merawat kedua pulau tersebut, sedangkan Malaysia mengisi kekosongan itu dengan mengembangkan kedua pulau tersebut sebagai daerah wisata. Kita kalah dalam pengadilan internasional di Den Haag beberapa tahun lalu. Dua pulau itu kini menjadi miliknya Malaysia.

Ada berbagai bentuk lain berkurangnya luas wilayah sebuah negara. Salah satunya adalah melalui penjualan pasir laut dari wilayah Kepulauan Riau ke negara tetangga. Sudah berapa banyak pasir laut yang dijual? Singapura pasti bertambah luas wilayah daratannya melalui penimbunan pantainya dengan pasir dari laut Indonesia. Sementara Indonesia sudah berkurang luas wilayahnya. Apakah kita sudah menghitung berkurangnya luas wilayah kita?

Beberapa dasawarsa kita lengah menjaga lautan yang sangat kaya. Jutaan ton berbagai jenis ikan, udang, cumi dan sebagainya yang berasal dari wilayah Indonesia, tiba-tiba kita jumpai di berbagai pasar swalayan di Singapura, Hongkong, Jepang, Taiwan, sampai Eropa dan Amerika dengan kemasan berlabel Thailand, Vietnam, China, Malaysia, Singapura. Sebanyak 240 trilyun rupiah kekayaan kita yang hilang setiap tahunnya dan menjadi pemasukkan devisa bagi negara lain.

Baru pada tahun 2014, ketika Indonesia memiliki seorang Srikandi yang tegas dan cepat bertindak, pencurian ikan di wilayah ini berkurang secara signifikan. Tindakan yang tepat dan berdasarkan hukum internasional tentang penangkapan ikan secara ilegal, IUU (Illegal, Unreported and Unregulated) fishing practices.

Tindakan tersebut sebaiknya berlanjut dengan perencanaan proses produksi, distribusi dan pemasaran hasil laut di dalam dan ke luar negeri. Dunia internasional nantinya akan mengenal kemasan produksi laut dari Indonesia.

Menjaga perairan Indonesia tidak hanya terbatas dengan patroli laut seperti BAKAMLA, tetapi juga perlu dikaitkan dengan mendorong bergairahnya kegiatan ekonomi kelautan . Lautan negeri ini dengan demikian selalu penuh dengan armada nelayan sendiri dan wilayah perbatasan laut tidak terlihat kosong, Diperlukan perencanaan yang komprehensif !

Nasionalisme Kekanak Kanakan

Kebanggan nasional atau harga diri sebagai sebuah bangsa terkadang diekspresikan begitu naif. Seperti terjadinya demonstrasi dan protes keras ke Kedubes Malaysia. Karena masalah apa? Batik, lagu Rasa Sayang Sayangnge, Reog Ponorogo dsb. yang diakui merupakan produk Malaysia. Heboh luar biasa. Benci sekali kita terhadap bangsa serumpun. Padahal TKI kita yang mempopulerkannya di negeri Jiran.

Sementara warga Turki tidak ada yang demonstrasi ke Kedubes Jerman di Ankara, ketika Jerman mengakui dengan bangga, bahwa Kebab adalah makanan nasional Jerman.

Masyarakat Indonesia perlu memperoleh pendidikan politik. Tidak hanya terbatas pada penyelenggaraan Pemilu dan Pancasila saja, tetapi lebih luas sifatnya dan berkeseinambungan. Sikap kekanak kanakan dalam merespon berbagai hal terkait kedaulatan negeri dan kebanggan nasional secara bertahap akan semakin arif.

Perubahan Geopolitik dan Nasionalisme

Media massa Indonesia minggu lalu memberitakan adanya lima puluh kapal penangkap ikan asal China yang dikawal kapal penjaga pantainya memasuki wilayah perairan Indonesia di Natuna.

Kementrian Luar Negeri telah merespon dengan cepat dan menyampaikan nota protes atas pelanggaran wilayah perairan kita dan memanggil Duta Besar RRC dan mengingatkan tentang Kesepakatan Hukum Laut Internasional, UNCLOS (United Nations Convention on the Law of the Sea), yang juga ditandatangani Indonesia dan RRC.

Langkah tersebut sangat tepat dan membuktikan kematangan kita dalam diplomasi internasional. Kematangan politik luar negeri juga terlihat, ketika Menhankam dan Menko Bidang Kemaritiman mengeluarkan pernyataan yang proporsional tentang insiden tersebut. Bahkan Presiden Jokowi mengunjungi langsung wilayah Natuna untuk melihat situasi disana.

Perubahan geopolitik dan geoekonomi yang sedang berlangsung, terutama meningkatnya persaingan yang bermuara pada perang dagang antara Amerika Serikat dan China, hendaknya perlu dicermati, diantisipasi dampaknya terhadap perekonomian nasional. Yang lebih penting lagi jangan sampai persaingan kedua negara tersebut merasuki hati dan pikiran masyarakat kita menjadi sebuah sikap antipati terhadap salah satu negara, dalam hal ini RRC. Padahal warga Amerika Serikat sendiri tenang-tenang saja menyikapi perang dagang kedua negara tersebut. Mereka faham adanya saling ketergantungan, interdepedensi dalam hubungan ekonomi, perdagangan dan investasi antar negara dalam era globalisasi.

Pencurian ikan dan pelanggaran wilayah Indonesia hanya merupakan riak kecil dalam pergaulan antar bangsa. Kita perlu arif menyikapinya. Sikap tersebut sudah diperlihatkan oleh para petinggi bangsa ini.

Pergaulan internasional menuntut kita untuk lebih cerdas dan arif dalam bertindak. Termasuk sikap warga negaranya. Politik luar negeri kita tetap menganut politik bebas aktif dan kita harus tetap tegas menjaga kedaulatan negara. Semoga bangsa ini lebih arif dan cerdas menyikapi berbagai masalah, baik nasional maupun internasional.

Bogor, 9 Januari 2020

*) Peneliti dan Penerjemah

Comments

comments