KEMATIAN DALAM KESENDIRIAN

M Rizal Fadillah

by M Rizal Fadillah

Pada prinsipnya kematian itu dalam kesendirian. Masing masing insan mengakhiri kehidupan di alam fana memasuki alam baru sendirian. Sebanyak banyak memiliki saudara, teman, bawahan, atau pengaruh, tetap saja kembali itu sendiri. Tanpa diketahui kapan dan dimana. Ada takdir yang menetapkan.

Kubur adalah “gambaran” kesendirian itu. Oleh karenanya kita melakukan penilaian sendiri atas amal kita. Minim, sedang, atau banyak. Namun sebanyak banyak amal tetap saja tergantung penilaian akhir dari hakim penentu, Allah SWT. Karenanya hamba senantiasa memohon rahmah dan maghfirah-Nya.

Dalam kasus wabah virus corona dengan meninggalnya banyak korban muslim, maka penanganannya pun menjadi darurat. Tidak dapat dilakukan sebagaimana biasanya menangani jenazah menurut kesempurnaan syari’at. Baik memandikan, mengkafani, menyolatkan, hingga mengantarkan jenazah. Kondisi sangat terbatas, keluargapun tidak dapat dekat dengan almarhum tercinta.

Ada peristiwa di Sultra keluarga mengamuk dan memaksa membawa pulang dengan mobil pribadi jenazah yang terjangkit virus corona. Tentu berisiko bagi keluarga, pelayat, dan pemulasara jenazah. Mungkin juga bagi para pengantar dan orang yang menguburkannya. Berat tentu saja melepas anggota keluarga.
Banyak peristiwa lain yang serupa, berpisah tanpa perpisahan selayaknya.

Disini tawakal dan shabar menjadi ujian. Meyakini bahwa kondisi dan kedaruratan menjadi hukum yang mengubah aturan. “al hukmu yaduru ma’al ilati wujudan wa ‘adaman” (hukum itu mengikuti “ilat” baik ada maupun tiadanya). Karenanya meskipun diurus tidak sebagaimana mestinya, akan tetapi yakinlah semua sudah menjadi ketentuan Allah. Do’a dan ampunan yang dimohonkan.

Alangkah baiknya sejak dini rumah sakit yang menangani pasien covid 19 bukan saja dilengkapi dengan APD tapi juga menyiapkan pemulasara jenazah yang faham soal syari’at memandikan, mengkafani, atau mengelola penguburan secara syar’i walau harus minimal. Tayamum dan menyolatkan. Sehingga keluarga tidak merasa terabaikan dan tenang meskipun tidak dapat melakukan hal yang lazim dalam menangani kehilangan anggota keluarga.
Kementrian agama dapat berkontribusi untuk ini.

Tidak perlu mencela atau mengasihani pasien yang wafat karena corona. Itu hanya sebab saja. Keluarga menerima keadaan akan ketidakmampuan untuk memulasara dengan sempurna. Orang yang meninggal tidak dibebani atas penyelenggaraan dirinya. Yang penting optimalisasi husnul khotimah kalimah tauhid “laa ilaaha illallah”.

Menyadari memang kematian adalah kesendirian. Tak perlu memaksa agar ia tetap bisa berkumpul dengan keluarga, kerabat, dan handai taulan. Memaksa hanya memudharatkan lingkungan. Kita antar almarhum atau almarhumah dengan do’a yang khusyu. Corona hanya sebab saja, Allah telah memanggilnya kembali.
innalillahi wa inna ilaihi roojiuun.

*) Pemerhati Politik dan Keagamaan

Bandung, 26 Maret 2020