UU “SOTO MADURA” VS UU LISTRIK!

Oleh : Ahmad Daryoko
Koordinator INVEST

Ternyata bisnis Soto Madura dan bisnis Listrik itu prinsipnya sama !

SOTO MADURA :

Anggap saja kemarin ada UU No 30/2009 tentang Pengelolaan Soto Madura. Dalam UU tersebut misal ada aturan yg mengharuskan “orang yang membeli soto harus membawa mangkok sendiri”.

Akhirnya ada yang gugat ke MK. Dengan alasan bahwa kalo pembeli harus bawa mangkok sendiri itu artinya penjual soto cuma mau enaknya sendiri !

Lagi pula bisnis Soto yang bener adalah pertama membuat soto itu sendiri, kemudian taruh di mangkok, dan disajikan ke tamu yang jajan soto itu ! Paham ?

Dan mestinya seragamnya juga sama, mulai yang masak soto, yang menaruk ke mangkok, yang bawa kemeja makan semua seragamnya misal hitam sesuai namanya “Soto Madura Cak Sakerah” !

Nah setelah UU No 30/2009 ttg Persotoan Madura itu di batalkan Mahkamah Konstitusi, maka Warung Soto Cak Sakerah itu tidak terapkan “Unbundling” Persotoan lagi ! Dan mulai dari tukang masak soto, tarok dimangkok juga pake mangkok sendiri, dibawa ke tamu yg sedang jajan juga dengan pelayan sendiri. Dan semuanya pakai seragam yang sama yaitu hitam !

BAGAIMANA DENGAN BISNIS LISTRIK ?

Kalau di Warung Soto kemarin ada UU No 30/2009 yg haruskan pembeli bawa mangkok sendiri, nah di bisnis listrik kemarin juga ada UU No 30/2009 ttg Ketenagalistrikan yang mengharuskan pembeli bawa “mangkok” sendiri. Dan “mangkok” itu namanya Transmisi ( krn Soto Listrik ini pembelinya hanya PLN ).

Akhirnya SP PLN menggugat ke MK (gak kalah sama konsumen soto) krn menganggap “tukang masak listrik” (pembangkit swasta IPP ) ini seenak “udel” nya. Mosok jualan stroom kok gak punya Transmisi ( “mangkok” ) nya ? Akhirnya Mahkamah Konstitusi mengabulkan gugatan SP PLN tersebut, dengan putusan No 111/PUU-XIII/2015 yg intinya “bisnis listrik” itu harus disertai dng “mangkok” bernama Transmisi dan Distribusi !

KESIMPULAN :

Sebagaimana bisnis Soto yang harus memiliki “mangkok” sendiri, maka bisnis pembangkit juga harus memiliki “mangkok” sendiri bernama Transmisi dan Distribusi.

INTINYA :

Misal pak JK bikin warung listrik (pembangkit IPP) di Banten sana, maka JK tidak boleh pakai “mangkok”/transmisinya PLN, tapi harus bangun sendiri Transmisi (di cat kuning biar jelas ) disebelah Transmisinya PLN ( yang hitam dan sudah jelek itu) ke arah Jakarta,Bandung, Surabaya dll ! Di kota2 itupun JK juga harus bikin jaringan Distribusi 20 KV, pasang kabel twisted tersendiri masuk kerumah rumah konsumen !

Biar gak keliru dengan kabel2 PLN maka mulai pembangkit, Transmisi, Distribusi semuanya di cat kuning (JK hobby warna kuning).

Dengan demikian riil kompetisi akan terjadi , karena dengan demikian didepan rumah kita akan ada dua pilihan, yaitu kabelnya PLN yg hitam-hitam itu dan kabel pak JK yang kuning-kuning cakep itu ! Murah mana listriknya ? Yang kabel hitam atau yang kuning ? Ini dia kompetisi itu !

Begitu juga Dahlan Iskan ,LBP, kakak Erick juga begitu ! Jangan hanya bikin pembangkit saja, setelah itu mentang-mentang berkuasa ( tidak hiraukan putusan MK ) malah “menjarah” ASSET NEGARA bernama Transmisi dan Distribusi PLN ! Shg 15.000 MW pembangkit PLN “ditendang” keluar gelanggang kelistrikan !

TAPI KALO MAUNYA MAIN “JARAH” ASSET NEGARA SEPERTI ITU, SUDAH WAKTUNYA KITA LAKUKAN REVOLUSI !

HAYO BANGKIT ! LAWAN ! ALLOHUAKBAR !

Jakarta, 25 April 2020

Comments

comments