Seru! Didu Vs Luhut, Bak Semut Lawan Gajah

Said Didu bersama Emha Aini Nadjib (CakNun)/ist

PRIBUMINEWS.CO.ID – Seru! Di tengah merebaknya wabah Covid-19 yang mendunia yang telah memasuki bulan kelima, imbasnya tak terelakkan banyak event-event olah raga baik bertaraf nasional maupun internasional ditunda atau dibatalkan pelaksanaannya. Kecuali satu gelaran di Tanah Air kita yang tetap berlanjut yakni perseteruan antara Muhammad Said Didu (Didu) dengan Luhut Binsar Panjaitan (Luhut) yang digelar bukan di lapangan hijau, tapi gelarannya digelar di meja hijau karena sudah masuk ke ranah hukum.

Kalau dulu beberapa tahun lalu kita pernah mengenal istilah “Cicak lawan Buaya” dalam kasus perseteruan antara pihak Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) versus Kepolisian, kini perseteruan antara Didu versus Luhut, kalau boleh disebut, maaf, sekali lagi kalau boleh disebut perseteruan ini bak “Semut versus Gajah”.

Didu yang saat ini hanya berstatus rakyat biasa yang “berjiwa merdeka” (bukan berjiwa budak) plus petisi dukungan dari berbagai elemen masyarakat, mesti berhadapan dengan Luhut yang saat ini berstatus sebagai Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi plus dukungan sistem yang serba ada untuk segala urusan pasti tersedia.

Kini langkah gagah gajah yang dengan penuh kepongahannya barangkali sangat optimis dengan mudah menyeret semut ke jeruji besi? Tapi jangan salah, semut dengan berbagai ketulusan perjuangannya lebih optimis lagi dapat mengalahkan gajah sebagaimana ilustrasi dalam “suten gajah”, ketika “suten” ibu jari/jempol (gajah) bertemu dengan jari kelingking (semut) bukankah yang menang adalah semut?

Terlepas dari istilah “Semut versus Gajah”, paling tidak, ada beberapa item penting yang mungkin bisa kita ambil di balik proses hukum yang akan segera digelar. Pertama, dapat menjadi pembelajaran politik dan hukum secara gratis bagi masyarakat tanpa harus mengakses terlebih dahulu kartu prakerja yang masih banyak dipertanyakan. Kedua, masyarakat akan secara mudah menilai dan membedakan antara pencemaran nama baik dengan egoisme pejabat publik yang belum tahan mental dalam menghadapi kritik. Karena awal masalah ini muncul hanya karena masalah kecil yakni “ketersinggungan” perasaan.***

Oleh Tardjono Abu Muas, Pemerhati Masalah Sosial