Manakala Pandemi Covid-19 Iringi Suasana Idul Fitri 1441H

Tardjono Abu Muas, Pemerhati Masalah Sosial

Oleh: Tardjono Abu Muas, Pemerhati Masalah Sosial

Allahu Akbar,..Dengan kehendak dan takdir-Nya kini kita ditakdirkan oleh Allah SWT menjadi saksi hidup berhari raya dalam suasana tidak sebagaimana suasana Idul Fitri tahun-tahun sebelumnya. Pandemi Covid-19 atas kehendak-Nya pula telah ikut mengiringi kita dalam suasana Idul Fitri.

Di tengah-tengah keceriaan kita merayakan Idul Fitri, di sela-sela ketaqwaan yang sedang kita coba bangun dan upayakan untuk memperolehnya. Dan di tengah-tengah kekhusyuan kita beribadah pula untuk mengharap keridhaan Allah SWT, serta di tengah-tengah kita menghadapi penyebaran pandemi Covid-19, ternyata masih banyak juga rasa khawatir yang hadir di dalam hati kita tentunya, karena kita tahu persis mungkin telah puluhan, ratusan, bahkan mungkin telah ribuan kali Allah menurunkan musibah baik dalam bentuk ujian maupun teguran kepada kita orang yang beriman bahkan azab bagi orang-orang kafir.

Dan mungkin di antara kita ada yang tergugah dengan musibah tersebut, atau mungkin di antara kita ada yang sama sekali tidak pernah tergugah atau tidak pernah terusik bahkan tidak pernah bergeming oleh musibah yang Allah anugerahkan kepada kita. Sehingga Allah SWT menganugerahkan musibah secara global dan nasional yang kini bisa kita rasakan bersama saat ini.

Hal ini selayaknya menjadi pertanyaan dalam diri kita, sudahkah hati kita memiliki keterbukaan dan kepekaan untuk bisa menerima sinyal-sinyal peringatan dari Allah sehingga mampu menghadirkan hidayah bagi kita? Keterbukaan atau kepekaan untuk bisa menerima sinyal-sinyal atau peringatan-peringatan Allah, tentu hanya dimiliki oleh sosok insan yang muttaqien.

Sosok insan muttaqien inilah yang diharapkan tampil di republik yang sedang sakit ini. Kita tentunya dapat membayangkan, bila saja kehidupan suatu bangsa unsur taqwalah yang menjadi jati dirinya, artinya rakyat dan para pemimpinnya terdiri atas orang-orang yang bertaqwa yang masing-masing sama-sama beriman dan bertangungjawab dalam memperhatikan dan menanggulangi nasib kaum yang lemah, istiqomah dalam menegakkan kebenaran, maka dapat dipastikan akan terwujud masyarakat yang “marhamah” (aman dan sejahtera), “Baldatun thay-yibatun wa rabbun ghafur” (negara yang damai sentausa dalam ridha Allah SWT). Mahabenar Allah dalam firman-Nya : “Wa lau anna ahlal quraa aamanuu wattaqau la fatahnaa ‘alaihim barakaatim-minnas-samaa’i wal ardhi” (Dan sekiranya penduduk negeri-negeri itu beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkannya kepada mereka berkah (kemakmuran) dari langit dan bumi, (Q.S. Al-Araaf : 96)

Namun sebaliknya, sulit kita bayangkan bagaimana jadinya kehidupan suatu bangsa bila masing-masing individu masyarakatnya, baik pemimpin maupun orang-orang yang dipimpinnya bukan terdiri dari orang-orang yang bertaqwa, apa jadinya kehidupan bangsa tersebut? Karena tanpa taqwa, manusia yang semula merupakan “ahsani-taqwim” (yang paling mulia) karena diperkaya dengan budi dan rasa, akal dan pikiran, dapat dipastikan segera akan meluncur drastis ke tingkat “asfala saafiliin” (serendah-rendahnya derajat)(Q.S. At-Tiin:4-5). Mereka kemudian tampil sebagai “Homo Homini Lopus”, yang satu menjadi serigala bagi yang lainnya. Yang menurut al-Qur’an, hal tersebut terjadi bukan karena daya intelegensia manusia tumpul, tapi karena “Laa yafqahuuna bihaa” (tidak lagi mempergunakan akalnya di jalan yang diridai Allah). Bukan pula karena mereka tidak mampu membaca kenyataan yang hidup dan berkembang dalam masyarakat, namun karena mereka “laa yubshiruuna bihaa” (mereka berusaha menutup mata dari kenyataan yang ada). Bukan pula mereka tidak mendengar jeritan, rintihan, tangisan dan pekikkan orang-orang yang tertindas dan teraniaya akibat ulah hawa nafsu mereka, namun mereka sudah “laa yasma’uuna bihaa” (mereka hanya pura-pura tidak mendengar), sehingga mereka termasuk “ulaa-ika kal-an’aami bal hum adhall” (mereka tidak ubahnya seperti binatang, bahkan lebih rendah dan sesat lagi dari itu) (Q.S. al-Araaf : 179).

Dengan demikian, tanpa taqwa menurut al-Qur’an, cepat atau lambat pasti akan terbukti pula apa yang pernah dikhawatirkan para malaikat, yaitu tampilnya “may yufsidu fiiha wa yasfikuddimaa” (yakni tampilnya manusia-manusia yang membuat kerusakan di muka bumi dan banyak menumpahkan darah sesamanya (Q.S. Al-Baqarah:30). Segala macam cara ia halalkan demi memenuhi ambisi hawa nafsunya. Dengan kemampuan intelegensianya, ia putar dan ia plintir segalanya sehingga nilai dan norma yang ada menjadi kabur dan ngawur karenanya. Garis pemisah antara yang haq dan yang bathil, antara yang halal dan yang haram hilang sendirinya.

Kejadian semacam ini memang sebagaimana pernah disinyalir Rasulullah SAW melalui sabdanya yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah : “Kelak akan tiba kepada manusia suatu masa, tahun-tahun yang penuh dengan tipu muslihat, si pembohong dipercaya, sedangkan orang yang benar malah didustakan. Pengkhianat mulai dipercaya, sedangkan orang yang tadinya dipercaya malah dianggap khianat, sementara orang-orang yang tidak mengerti apa-apa mulai berbicara urusan umat”. “Ya ! Pada masa itu”, kata Rasulullah SAW, “semua serba terbalik”, Yang haq dikatakan bathil, dan yang bathil dikatakan haq. Yang halal dikatakan haram, dan yang haram dikatakan halal”.

Kini, tiba saatnya dalam suasana Idul Fitri di tengah pandemi Covid-19 ini kita sudah selayaknya bermuhasabah/introspeksi diri kita masing-masing terhadap apa yang telah, sedang dan akan kita lakukan. Terlebih bagi para pemangku kebijakan publik untuk segera bertaubat memohon ampun kepada-Nya jika dalam melaksanakan amanah-Nya telah menyimpang dari jalan-Nya untuk segera kembali kepada aturan dan hukum-Nya.

Taqabbalallahu minna wa minkum