Jejak Aksara Sang Dwiwarna

Oleh Taufan S. Chandranegara *)

Tanah di sini dan tanah di sana berbeda metalurgi. Tak perlu saling memberi pernyataan benar dan salah. Kebenaran ada di kesalahan dan kesalahan ada di kebenaran. Metafisika bukan mistik di horizon, tapi kenyataan badan dan jiwa.

Bersatunya keadaan badan, bersatunya keadaan jiwa. Jika Barat menyatakan berbeda, karena Barat bukan Timur, demikian sebaliknya. Jika Selatan menyatakan berbeda karena Selatan bukan Utara, demikian sebaliknya.

Kesombongan tidak menemukan badan, hanya, menemukan intelegensi akal-akalan. Demikian sebaliknya. Intelegensi tak bisa bekerja tanpa jiwa dan badan, keseimbangan melengkapi personal, itu sebabnya pula wajib berhenti menjadi pencuri hak-hak rakyat.

***

Melihat jejak kaki-kaki, telah sekian lama perjalanan menuju entah. Di luar sana, ada banyak persoalan, ada banyak kebaikan dan kebenaran, menimbang, melihat cermin langit, sudahkah langkah itu meninggalkan jejak, pantaskah diteladani oleh siapa saja, penemu jejak itu kelak.

Perjalanan mengalir menuju ufuk di mana saja arah mata angin itu seperti pandang mata menjejak semesta jiwa-jiwa agar terasa damai dari satu kesalahan menuju mungkin kebenaran dan lagi kesalahan, keduanya tak pernah diketahui sebenarnya benar dan sebenarnya salah.

Pada usia siapapun sekarang, di manapun sekarang, benarkah sudah benar jika menulis tentang benar. Benarkah menulis tentang salah itu benar salah. Siapa menilai. Siapa menguji. Siapa mengetahui tentang salah dan benar, sebenarnya salah sebenarnya benar, atau keduanya bukan benar dan salah.

Kembali pada fitrah ilahi bagi amar putusan untuk publik, tentu dilarang inheren manipulasi kepentingan khalayak, sebab khalayak memberi kepercayaan kepada kekuasaan negara, bukan negara-memberi kekuasaan kepada khalayak.

***

Gravitasi dan frekuensi bukan buatan manusia, tapi keduanya bersahabat dengan kehidupan. Kata air bagi gravitasi adalah kata batin bagi frekuensi. Keduanya, kehidupan berada di ranah filosofi intelegensi.

Ilmu tidak menemukan jiwa dan badan, maka, ilmu tak menemukan tujuannya. Tak ada tujuan, tak akan lebih baik. Sebab akal budi bermanfaat bagi air memantulkan langit, gemintang, rembulan dan matahari tertata di bima sakti berkat teknologi ilahiah.

Maka ilmu akan berkaca pada alam. Ilmu bergantung pada kekuatan akal budi, mengolah langit di dalam dan di luar badan. Intelegensi menjadi sarana transmisi refleksi fisika bagi badan, itu sebabnya pula wajib memberi manfaat kesejahteraan setiap bunyi dari amar putusan untuk khalayak.

***

Timur dan Barat tidak sama. Ke Barat jangan melupakan Timur, demikian sebaliknya. Utara dan Selatan tidak sama. Ke Utara jangan melupakan Selatan, demikian sebaliknya.

Kau lahir di Timur, ruhmu ada di Timur. Kau lahir di Selatan, ruhmu ada di Selatan. Kau lahir di Barat, ruhmu ada di Barat. Kau lahir di Utara ruhmu ada di Utara. Keadaan tak selalu sama, maka bertemulah keseimbangan antara waktu semesta.

Akal budi, titik molekul zat keilahian, mengolah ruh dan badan, mengendalikan intelegensi, di kehidupan, untuk kebaikan. Bukan untuk mengembangkan ilmu akal bulus menyulap hak-hak negara, milik rakyat, di nota personal menjadi materi haram.

**

Perjuangan untuk tanah lahir anak negeri. Pada benar menuai darah dan air mata demi kedaulatan kemerdekaan negara. Di tulis sejarah pertemuan kosmik kepahlawanan. Esa hilang tumbuh berganti. Di sana, bertemulah hal ihwal ditulis siapapun jawaban bagi pertanyaan.

Itu sebabnya pula, di manapun berada taburkan doa. Di manapun berada taburkan bunga. Untuk kesuburan negeri tercinta. Salam Indonesia Keren.

Jakarta Indonesia, Juni , 2020

*)praktisi seni