MANIPULASI DAN BAHAYA “GOTONG ROYONG”

M Rizal Fadillah

by M Rizal Fadillah

Rasanya saat-saat ini mulai disosialisasikan penggunaan kalimat gotong royong. Makna sederhananya adalah kerjasama, bahu membahu atau tolong menolong sebagai konsekuensi dari proses interaksi sosial. Makna seperti ini tentu konstruktif apalagi jika disandarkan pada asas kekeluargaan dan kebersamaan.

Meskipun demikian gotong royong itu masih netral. Konstruksi lain juga bisa bermakna buruk jika kekeluargaan atau kebersamaan di atas didasarkan pada kejahatan, kezaliman, dan dosa. Gotong royong dalam keburukan adalah tercela atau tidak beradab. Bisa juga biadab. Agama mengajarkan untuk tolong menolong dalam kebaikan dan ketakwaan, jangan bekerjasama dalam dosa dan kejelekan.

Di sisi lain gotong royong juga dapat masuk dalam kategori manipulatif dan bahaya. Ini jika dikaitkan dengan gotong royongnya Ekasila. Gotong royong disini bernilai ideologis yang telah lewat dalam lintasan sejarah bangsa. Gotong Royong sebagai hasil “perasan” dari Trisila yaitu Socio Nasionalisme, Socio Demokrasi, dan Ketuhanan.

Hasil pemerasan lagi dari Pancasila gagasan Soekarno yaitu Kebangsaan atau Nasionalisme, Kemanusiaan atau Internasionalisme, Mufakat atau Demokrasi, Kesejahteraan Sosial, dan Ketuhanan yang berkebudayaan.

Jadi terma gotong royong dapat multi makna. Dari yang positif hingga negatif bahkan dapat manipulatif dan berbahaya. Ketika dibuat spanduk sebagai sosialisasi “gotong royong” maka pada kemungkinan munculnya makna yang bersifat ideologis. Oleh karena itu masyarakat harus berhati hati. Gunakan saja kalimat yang lebih aman seperti tolong menolong, kerjasama, bahu membahu atau masih banyak lainnya lagi. Hindari istilah “gotong royong”.

Jika ditarik ke masa Orde Lama maka PKI suka yang mengkampanyekan istilah gotong royongnya Soekarno.. Mungkin relevan atau sejalan dengan faham komunisme yang “materialisme”, “sama rata sama rasa” dan berslogan “kaum proletar bersatulah”. Maksudnya bergotong royonglah. Dengan Ekasila nilai Ketuhanan dan lainnya menjadi lebur atau “out”. Basis kuat untuk mengembangkan faham komunisme.

Konsepsi Presiden soal Kabinet Gotong Royong didukung penuh oleh PKI. DN Aidit menyebut “sesuai dengan tuntutan rakyat”. Dalam Sidang Konstituante Ir. Sakirman dari PKI menyatakan Sila Gotong Royong sudahlah cukup sebagai satu-satunya Sila. Mengenyampingkan Sila Ketuhanan Yang Maha Esa. PKI sangat mendukung dan memperjuangkan Eka Sila “Gotong Royong”.

Kini jika kaum “kebangsaan” alergi dengan isilah Jihad, Syari’at atau Khilafah, mengapa kaum atau umat Islam tidak alergi terhadap terma gotong royong ? Saatnya umat Islam menjauhi peristilahan “gotong royong” karena multi makna. Bahayanya adalah “gotong royong” terus menerus dipublikasikan agar pada waktunya rakyat Indonesia dapat menerima “gotong royong” sebagai satu-satunya sila. Ekasila. Ini adalah perjuangan kelompok perjuangan PKI.

PKI dan Neo PKI sama saja, tukang memanipulasi, dan menjpu. Munculnya RUU HiP adalah tipu tipu itu.

*) Pemerhati Politik dan Kebangsaan.

Bandung, 19 Juni 2020