KONGRES SUNDA 2020: SUNDANA SUNDA NU SAKUDUNA

0
30

CATATAN KHUSUS CECEP AHMAD HDAYAT, PEMIMPIN REDAKSI SUNDANESIA

Ini saatnya mengungkap tentang Sunda yang sebenarnya
Perubahan nama menjadi propinsi Pasundan merupakan salah satu tawaran murah untuk suatu Masyarakat dengan peradaban sejarahnya yang sangat luhur

Cecep Ahmad Hidayat Pemimpin Redaksi Sundanesia /IST

What’s in a name?, That which we call a rose by any other name would smell as sweet (Apalah arti sebuah nama ? Andaikata kamu memberikan nama lain untuk bunga mawar, ia tetap akan berbau wangi) – William Shakespeare

Pernyataan dramawan besar dari Inggris ini patut di renungkan lagi,, memang betul bahwa nama untuk identitas personal bisa menjadi doa menurut keyakinan kaum muslimin. Tetapi Penamaan untuk sebuah komunitas perlu direnungkan kembali karena bukan Cuma urusan harapan tapi juga urusan jati diri sejarah komunitas (masyarakat) tersebut. Komunitas itu ibarat sebuah bangunan, dimana semua elemennya harus di siapkan, terutama fondasinya. Bangunan itu harus TOHAGA (kuat) “teu unggut Kalinduan teu gedag kaanginan”

Kebanggaan fisikal (Penamaan) tidaklah salah tetapi kalau isinya kropos maka tong kosong nyaring bunyinya, semua hanya menjadi kebanggaan semu yang hanya dimanfaatkan untuk kepentingan publikasi sekelompok manusia yang hanya mementingkan kesesaatan (kesementaraan), terutama para politikus praktis. Atau para EO kebudayaan yang hanya ingin menarik keuntungan finansial saja.

Mengganti nama Propinsi Jawa Barat Menjadi Provinsi Pasundan atau yang lainnya merupakan upaya perubahan yang real demi kepentingan Komunitas Masyarakat Sunda, itu betul dan tidak salah.

Tetapi Ada hal yang lebih mendasar untuk terwujudnya suatu kebersamaan yang kuat (tohaga) dari suatu komunitas atau masyarakat tertentu sepeti halnya Masyarakat Sunda atau Rakyat Pasundan yaitu memahami karakter masyarakat dilingkungannya sendiri , dimanakah kira kira suatu kebanggaan yang dapat melahirkan kepercayaan diri untuk tetap bersama sama dalam memperjuangkan kehidupan ke depan.

Karakter Masyarakat, salah satunya terwujud adanya suatu usaha yang luhur dari latar belakang nenek moyangnya yaitu produk budaya yang menyangkut seluruh aspek kehidupan masyarakat tertentu.

Koentjaraningrat (1995) seorang ilmuwan antropologi kenamaan Indonesia, menyebutkan bahwa produk budaya memiliki dua fungsi, yaitu: (i) sebagai suatu sistem gagasan dan pralambang yang memberi identitas kepada warga masyarakat tertentu (ii) sebagai suatu sistem gagasan dan pralambang yang dapat dipergunakan oleh semua warga masyarakat tertentu, untuk saling berkomunikasi, sehingga memperkuat solidaritas.

Dalam fungsinya yang pertama, produk budaya masyarakat memiliki tiga syarat:

(1) harus merupakan hasil karya warga masyarakat tersebut , atau hasil karya orang-orang zaman dahulu yang berasal dari daerah-daerah yang sekarang merupakan wilayah masyarakat tertentu, Sunda misalnya;

(2) unsur itu harus merupakan hasil karya warga masyarakat yang tema pikirannya atau wujudnya mengandung ciri-ciri warga masyarakat tersebut; dan

(3) harus sebagai hasil karya warga masyarakat tersebut , lainnya yang dapat menjadi kebanggaan mereka semua, sehingga mereka mau mengidentitaskan karakter pribadinya dengan kebudayaan tersebut maka akan terwujud suatu karakter masyarakat yang paripurna .

Pendidikan Karakter melalui sejarah budaya

Karakter masyarakat dalam disiplin antropologi (khususnya masa lampau) dipandang sebagai tata nilai budaya dan keyakinan yang terekspresikan dalam kebudayaan suatu masyarakat, dan memancarkan ciri-ciri khas ke luar. Sehingga dapat ditanggapi orang luar sebagai kepribadian masyarakat tersebut.

Karakter ini biasanya ditransmisikan melalui pendidikan sejarah budaya baik sejarah maupun aplikasi realnya. Tujuan pendidikan budaya (sejarah maupun aplikasinya) dan karakter masyarakat adalah untuk mengembangkan potensi kalbu peserta didik sebagai manusia dan warga masyarakat , yang memiliki nilai-nilai budaya dan karakter masyarakat.

Mengembangkan kebiasaan dalam perilaku peserta didik yang terpuji dan sejalan dengan nilai-nilai universal dan tradisi budaya masyarakat yang religious (Masyarakat Sunda misalnya). Itu akan menjadi buah yang menghasilkan bentuk dan warna karakter tertentu

Karakter adalah sebuah kualitas individu yang kompleks dan bersifat unik, yang menjadikan sikap maupun perilaku setiap orang saling berbeda. Namun dalam konteks yang lebih luas pasti terwujud latar belakang budaya yang menyebabkan karakter mereka sama, karena memiliki sistem nilai yang sama. Karakter, sikap, dan perilaku dalam praktiknya muncul bersamaan. Oleh karena itu, pembahasan tentang karakter tidak dapat dipisahkan dengan sikap dan perilaku. Karakter ini akan muncul pada saat seseorang berinteraksi dengan orang lain atau makhluk lain ciptaan Allah, yang dalam ajaran Islam disebut dengan hablum minannas.

Secara psikologis konsep awal karakter ini adalah bersifat perseorangan. Namun selepas itu, apabila menjadi karakter masyarakat, maka perlu adanya acuan nilai-nilai karakter, yaitu : kebudayaan Masyarakat.

Secara ringkas kebudayaan berisi sistem nilai, norma, dan kepercayaan budaya yang dikembangkan dan diamalkan oleh masyarakat pendukungnya. Dampaknya sebahagian besar anggota masyarakat dalam wilayah budaya ini memiliki kecenderungan yang sama dalam hal mengamalkan sistem nilai, norma, dan kepercayaannya., prilaku merupakan resultan dari berbagai aspek pribadi dan lingkungan. Jadi membincangkan karakter masyarakat, akan melibatkan diskusi dalam ranah psikologi dan kebudayaan. Yang pada akhirnya akan berbicara tentang jatidiri masyarakat. Salah satunya pembentukan kepercayaan diri itu melalui sejarah kebudayaan yang ada dimasyarakat.

Jatidiri atau identitas masyarakat dibentuk oleh setiap warganya. Jatidiri sangat diperlukan dalam rangka memperkuat ketahanan sosio kultural masing-masing warga masyarakat. Seperti apa jatidiri yang kita konsepkan dan amalkan? Menurut penulis, jatidiri ini berada dalam empat dimensi dasar.

Pertama adalah jatidiri individu atau setiap orang. Jatidiri individu ini adalah ciri-ciri khusus yang membedakan seorang dengan orang lainnya. Jatidiri individual ini merupakan anugerah Tuhan kepada setiap orang. Ia menjadi bahagian dari takdir dirinya, untuk menjadi siapa dan apa dirinya di dunia ini. Jatidiri individu ini dapat pula dibentuk oleh lingkungan dan pendidikan di mana individu itu hidup dan berinteraksi
sosial. Contoh jatidiri individual adalah sifat-sifat yang dimiliki seseorang. Bisa juga ciri-ciri fisik. Atau juga perilaku dalam pergaulan sosialnya.

Kedua adalah jati diri dari budaya tradisi adalah kebiasaan-kebiasaan yang telah digunakan oleh sekelompok masyarakat tertentu, yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya, dan telah dianggap menjadi baagian yang tidak terpisahkan dari masyarakat tersebut. Budaya tradisi ini mencakup semua unsur kebudayaan, termasuk religi, bahasa, organisasi sosial, ekonomi, teknologi, pendidikan, dan kesenian. Dimensi jatidiri yang ketiga adalah identitas politik dan kekuasaan. Jatidiri politik dan kekuasaan menjadi fokus perhatian dalam tulisan ini.

Ketiga jatidiri masyarakat (Sunda), terbentuk ketika satu atau beberapa kelompok etnik membentuk secara bersama sebuah tatanan pemerintahan (nation state). Unsur jatidiri politik dan kekuasaan ini, mungkin diambil dari nilai-nilai budaya tradisi yang membentuk masyarakat tersebut tadi, namun dengan berbagai persyaratan, seperti bisa diterima dan menjadi kebanggaan dari mayoritas warga masyarakat.

Dimensi jatidiri lainya (Keempat) adalah jatidiri yang berskala nasional dan Internasional. Jatidiri ini terwujud karena proses pengadunan (akulturatif) dengan berbagai budaya nasioonal dan internasional. Seperti diketahui bahwa masyarakat Sunda telah melakukan kontak budaya dengan berbagai suku dan bangsa, sepertii halnya suku Jawa, batak, Aceh, Padang, Bali, Malluku, Sulawesi sampai dengan Papua.

Kemudian dengan bangsa Belanda, Spanyol, Portugis, Inggris, China, India, Arab, Persia, dan lain-lainnya. Unsur kebudayaan asing yang kemudian diolah atau diadun dengan masyarakat kita (Sunda) ini juga akan memberikan jatidiri mereka secara khas.

ANTARA KEKINIAN DAN SEJARAH MASYARAKAT SUNDA

Kehalusan, kesopanan, toleran, menjadi suatu doktrin kebanggaan yang menina bobokan semua elemen masyarakat Sunda yang saat ini sudah betu betul memprihatinkan, hampir semua mengambil keputusan instan demi kepentingan pribadi atau golongan tertentu dengan memanfaatkan prilaku tersebut, mudah-mudahan konres yang akan dilaksanakan di tahun 2020 ini bukan merupakan upaya meninabobokan masyarakat Sunda dengan Karakter kehalusan, kesopanan dan toleransi masyarakat Sunda menjadi masyarakat yang tidak mempunyai ketegasan, baik secara budaya sosial maupun politik, kita seperti memperlihatkan sikap mengalah untuk menang padahal kenyataannya kita mengalah untuk dikalahkan.

Halus Sopan dan Toleran adalah milik semua masyarakat yang berbudaya tinggi, kita lihat karakter manusia jepang yang secara fisik selalu merendah dan menundukan diri dihadapan orang lain, begitupun dengan bangsa eropa dan Timur Tengah. Mereka Halus dan sopan tetapi bukan berarti tidak mempunyai ketegasan. Mereka tegas terhadap haknya, makanya mereka menjadi bangsa yang membawa bangsa lainnya menjadi bagiannya untuk menjadi budak budaya kompetitor dunia atas nama ideologinya.

​Jatidiri individu orang Sunda saat ini, agama Islam menjadi warna bagi ciri-ciri khusus yang membedakan kebanyakan orang Sunda dengan orang lainnya. Jatidiri individual orang Sunda ini merupakan anugerah Tuhan. Ini menjadi bahagian dari takdir dirinya, untuk menjadi siapa dan apa dirinya di dunia ini.

Jatidiri individu orang Sunda ini dibentuk oleh lingkungan dan pendidikan di mana Islam sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam berbagai pola kehiduppan. Di hampir semua pusat kegiatan pemerintahan (alun alun) baik tingkat provinsi, Kota /Kabupaten, kecamatan bahkan kelurahan, masjid telah menjadi ciri khusus dan menjadi munumen warna moral orang Sunda. Bisa dikatakan aneh kalaulah ada orang Sunda yang identitasnya beragama di luar Islam. Bahkan ada sebagian masyarakat Sunda yang mengatakan bahwa masyarakat Sunda sudah Islami sebelum Islam masuk ke tanah Pasundan, Walauhualam

Jati diri dari budaya tradisi Sunda dengan kebiasaan-kebiasaan yang telah digunakan oleh masyarakat Sunda, yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya, dan telah dianggap menjadi bahagian yang tidak terpisahkan dari masyarakat Sunda. Budaya tradisi Sunda ini mencakup semua unsur kebudayaan, Bahasanya yang akrab dan familiar tapi juga ada kejelasan mana Bahasa untuk bergaul dengan Bahasa untuk wilayah formal , organisasi social masyarakat Sunda dengan warna karakter gotong royong toleransi antar sesama warga di lingkungannya, dan kesenian merupakan ekspresi masyarakat Sunda yang sudah cukup dikenal di manca negara baik seni pertunjukan, seni rupa maupun kesenian lainnya untuk wilayah jati diri tradisi Masyarakat, Sunda memang hampir paripurna.

Dimensi jatidiri yang ketiga adalah identitas politik dan kekuasaan. Jatidiri politik dan kekuasaan masyarakat Sunda menjadi fokus perhatian dalam tulisan ini. Dalam dimensi ini tersirat peristiwa sejarah ketika satu atau beberapa kelompok etnik yang ada di masyarakat Sunda bersepakat membentuk secara bersama sebuah tatanan pemerintahan (nation state). Dimana unsur jatidiri politik dan kekuasaan di masyarakat Sunda saat itu, sudah pasti diambil dari nilai-nilai kearifan budaya politik Sunda yang membentuk warga masyarakatnya, namun dengan berbagai persyaratan, yang bisa diterima dan menjadi kebanggaan dari mayoritas warganya.

Dan kenyataannya sejarah masyarakat Sunda (yang tidak tercatat secara formal) adalah : bahwa masyarakat Sunda sudah pernah memiliki suatu tatanan Pemerintahan (Nation state) yang nyaris paripurna (sempurna), bahkan mungkin tidak dimiliki oleh masyarakat bangsa bangsa lain diseluruhh dunia yang mengunakan suatu system kekuasaan seperti yang pernah di lakukan oleh masyarakat Sunda.

Yaitu kebijakan kekuasaan hukum teritorial yang dilakukan oleh pemerintahan saat itu dengan pola yang benar benar adil, dan tersirat nyaris tidak ada penguasaan wilayah dengan cara politik anarkisme, tidak seperti kebanyakan yang dilakukan oleh pemerintahan klasik lainnya dengan dalih mempersatukan kebersamaan tapi dengan menggunakan politik anarkisme pemaksaan dengan memerangi wilayah ekspansinya.

Sistem penguasaan hukum teritorial yang di gunakan oleh Pemerintahan klasik masyarakat Sunda saat itu adalah penamaan wilayah yang dihampir semua wilayah kekuasaannya dengan menggunakan awal suku kata yang sama yaitu “Ci” atau air (Cai Bahasa Sunda) . Satu kebijakkan yang unik dalam memberikan nama dimasing masing tempat yang ada di wilayah kekuasaannya.

Dengan luas wilayah kekuasaan meliputi Provinsi DKI Jakarta (Sunda kalapa) seluas 661 Km2, Banten 9.663 km2, Jawa Barat 35.378 km2 dan sebagian wilayah Jawa Tengah sekitar 300 sd 400 km2, luas keseluruhannya kurang lebih 46.000km2. dimulai dari willayah Timur seperti Cilacap dan Cirebon hingga Cilegon Banten, suku kata CI menjadi ciri keunikan nama yang seragam dengan filosifis air sebagai sumber kehidupan paling mendasar bagi semua mahluk hidup dimuka bumi ini.

Kemudian yang paling unik dari penamaan wilayah kekuasaan ini adalah semua nama Sungai di wilayah kekuasaan pemerintahan klasik Pasundan di beri nama “Ci” sesuai dengan karakter sungai sebagai sumber mengalirnya air dari hulu ke hilir. Seperti Citanduy, Ciliwung, Citarum, Cimanuk, Cikapundung dan lain sebagainya.

Penggunaan suku kata “Ci’ ini menjadi bukti otentik, betapa masyarakat Sunda klasik itu mempunyai suatu budaya hukum yang sangat luhur dan beradab dalam mengelola tatanan hokum teritorial, sehingga bisa menjadi petanda bahwa penguasaan yang arif dan bijaksana dari pemerintahan klasik Sunda saat itu dapat menjadi pintu masuk kesadaran warga masyarakat kedepan untuk berupaya mengiidentifikasi Hak Kekuasaan Pasundan diwilayahnya dengan menelusuri tanda penamaan suku kata Ci di seluruh wilayah Negara

Pasundan Klasik

Penggunaan suku kata yang unik ini menjadi warisan spontan kepada masyarakat Sunda selanjutnya untuk menerapkan dalam kehidupannya sehari-hari sehingga penggunaan Ci ini menjadi sangat akrab dalam memberikan nama istilah air yang dalam Bahasa Sundanya “Cai”, seperti Cai Kopi menjadi Cikopi, Cai mata jadi Cimata, Cai Hujan jadi cihujan, dll, Jadi jangan lagi berupaya untuk menapsirkan suku kata Ci ini dengan istilah lain selain Air atau cai

Jadi jati diri masyarakkat Sunda sebenarnya memang tidak ada duanya dimuka bumi ini, apalagi dengan fakta realnya bahwa masyarakat Pasundan melalui petanda suku kata Ci ini menjadi bukti otentik yang tak terbantahkan untuk diperjuangkan hak-hak hukum teritorialnya oleh keturunan warga Masyarakat Sunda minimal menjadi catatan sejarah yang dapat dipertanggungjawabkan secara hukum Nasional maupun Internasional, jadi tidak ada lagi pengkklaiman sejarah dari warga asing (pendatang) di tanah para dewa ini (Parahiyangan = Para Dewa). Mereka tidak berani lagi menyamakan hak hak sejarahnya bahwa masyarakat Sunda sama sama sebagai pendatang seperti status mereka saat ini.

Sehingga mereka tidak lagi terus berupaya mengekspansi wilayah kepemilikan Tanah air Pasundan dengan cara yang tidak patut. Saat ini, sudah saatnya Manusia Sunda (intelektual = melek keilmuan dan pengetahuan) berupaya mengeksistensikan Masyarakatnya sehingga Pasundan dengan sejarah kearifan dan keluhuran peradabannya bisa menjadi percaya diri untuk menjadi solusi bagi negeri Nusantara yang saat ini hanya menjadi kacung (Babu) peradaban warga asing dinegerinya sendiri.

Dalam tulisan ini , penulis Tidak akan membicarakan kasundaan dari wilayah sejarah “Pigur” kekuasaan pemerintahan Sunda (Raja atau Sultan), yang begitu beragam dengan berbagai penafsiran, penulis hanya ingin menguatkan betapa dasyatnya kearifan pemimpin Sunda Klasik padasaat itu dengan peninggalan sejarah otentiknya. Sirsilah dan lain sebagainya penulis persilahkan kepada semua pihak yang terkait terutama pada para keturunan Raja-raja Sunda yang sampai saat ini masih sadar sebagai keturunan darah biru Penguasa Raja Pasundan (Kerajaan Pajajaran, Kerajaan Sumedang Larang, Kerajaan Galuh, dsb).

Penulis sangat sadar bukan keturunan darah biru, tapi secara prinsip kerakyatan sangat membutuhkan pigur pemimpin Monarci klasik yang akan menjadi fondasi sejarah kekuatan kepercayaan diri dalam melangkah kedepan demi anak cucu keturunan masyarakat Pasundan.

Penulis yakin inilah saatnya masyarakat Pasundan membuka hijab kebokbrokan sejarah Nusantara tanpa harus melontarkan sentiment-sentiment picisan terhadap penyimpangan sejarah dimana penghianat dianggap sebagai pahlawan sedangkan pahlawan yang sebenarnya dinggap sebagai pemberontak atau tetrhadap kebenaran yang sebenar benarnya.

Jadikan ruang pertemuan kongres Sunda 2020 itu sebagai ruang keilmuan dimana dalam mengkaji ilmu tidak ada batas yang menghalangi untuk menemukan titik persoalan yang sebenarnya dari semerawutnya negeri Nusantara nan kaya raya ini tapi mayoritas masyarakatnya miskin papa hanya menjadi kacung kaum pendatang dan babu peradaban asing ditanah airnya sendiri.

Lontaran pendapat tanpa argumentasi dan hanya emosi sesaat sebaiknya dihindari, buat forum pertemuan yang betul betul sejuk nyaman tetapi dapat menghasilkan lahirnya pemikiran yang RADIKAL untuk menemukan kebenaran dan fakta yang seutuhnya, sangat memungkinkan hasil pertemuan tersebut hanya membawa pertanyaan yang harus dijawab dalam ruang-ruang pertemuan selanjutnya yang lebih ilmiah dengan didukung kaum akademisi, ini akan menjadi suatu masukan positif bagi pemerintah yang ada di masyarakat Pasundan khususnya JABAR Banten dan DKI Jakarta.

Bila perlu kita tawarkan kepada pihak pemerintah agar pertanyaan dan misteri sejarah Pasundan ini dijadikan bahan-bahan kajian bagi para calon sarjana (S1, S2, S3 dll) yang dibiayai oleh pemerintah setempat (Bea siswa), beberapa contoh yang mungkin akan jadi pertanyaan misteri sejarah negeri Pasundan Raya (maaf) seperti

1. Bagaimana data fakta ilmiahnya kalau “Ci’ atau cai atau air dijadikan nama awal suku kata beberapa daerah di Tanah Pasundan bahkan hampir semua nama Sungai di pastikan semuanya diberinama awal suku kata “Ci’
Ini harus jadi salah satu kajian khusus sebab terlalu banyak yang mengklaim kalau istilah itu berasal dari negeri bukan Pasundan, Naip dan menggelikan

2. Bagaimana dan apa sebabnya sehingga Sunda kalapa diserang oleh demak dan Cirebon sehingga di ganti Namanya jadi Jayakarta. Bagaimana perlawanan dari Pemerintah klasik Pasundan saat itu yang sedang bekerja sama dengan pemerintah portugis yang notabene Portugis tidak mempunyai sejarah imprialisme sekejam Belanda dan negeri eropa lainnya, bahkan saat itu Pemerintahan Pasundan dan Portugis melakukan kerjasama yang betul betul diperhitungkan untung ruginya bagi kedua belah pihak yakni dengan lahirnya perjanjian antara Portugis dengan Raja Pasundan yang disebut ‘Luso Sundanese Padrao’
Justru setelah Sunda Kalapa direbut oleh Demak dan Cirebon, Belanda dengan mudah menguasai dengan gratis dan dari situlah awal impprialisme biadab Belanda menguasai tanah Nusantara.

3. Apa alasannya Islam lebih berkembang di Tanah Pasundan
Apa alasannya Aceh secara Psikologis lebih dekat dengan masyarakat Pasundan
Kenapa Karto Suwiryo selaku Imam DI TII lebih memilih Tanah Pasundan sebagai wilayah untuk Gerakan politiknya? Padahal beliau sebagai orang Jawa (Solo)

4. Sampai sejauh mana kemungkinannya kalau nama Jakarta dikembalikan menjadi nama asalnya yaitu Sunda Kalapa, tidak hanya pelabuhannya, sebab Jakarta itu nama yang diberikan oleh orang asing yaitu Jepang, Batavia oleh Belanda, dan Jayakarta oleh orang yang bukan dari Pasundan. Jadi sebagai orang Sunda yang mempunyai harkat martabat apakah hal itu memungkinkan untuk di perjuangkan?

5. Sangat Mungkin akan muncul pertanyaan2 mistery lainnya dari perbincangan kongres Sunda yang akan datang itu, dan hal itu harus dipublikasikan dengan maksimal oleh semua pihak khususnya pemerintah daerah yang ada di wilayah tanah air Pasundan.
Penulis berkeyakinan Kearifan Sunda adalah solusi bagi masyarakat Nusantara bahkan masyarakat dunia, data otentik sejarah non formal masyarakat Sunda klasik harus di kaji, di survei, diamanati secara maksimal oleh masyarakat Sunda sendiri yang didukung dan biaya oleh pemerintah setempat baik dari pemerintah propinsi Jawa Barat, DKI Jakarta, Banten serta seluruh pemda Kabupaten dan pemkot yang ada di wilayah sejarah kearifan Pasundan yang sangat agung dan bijaksana sehingga dapat menjadi data otentik yang yang real dan ilmiah.

Khususnya Jawa Barat yang merupakan wilayah terluas dari tiga provinsi ini, harus lebih konsen dan sungguh sungguh, sehingga momen inipun bisa menjadi pertaruhan sejarah bagi sosok kepemimpinan Ridwan Kamil di masa selanjutnya, apakah kesungguhannya memimpin masyarakatt Sunda ini getihan (dijiwai dan benar benar ikhlas) atau dengan kekenesannya hanya sebagai batu loncatan alakadarnya untuk mendapatkan kepuasan pribadi dan gologan kecilnya saja.

Penulis merasa kalau tulisan inipun terlalu singkat dan tidak ilmiah, karena saking banyaknya persoalan kasundaan ini ingin penulis bicarakan, tapi mudah-mudahan hal ini bisa menjadi inspirasi bersama untuk menemukan pertanyaan-pertanyaan yang lebih dalam yang dapat melahirkan jawaban yang lebih nyata dan mendasar.
Aamiin

Bandung, 21 OKTOBER 2020

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.