Anies, Sang Kandidat (1-7 Bagian)

0
583
Anies Baswedan yang bertanggung jawab untuk Kotanya dimana dia adalah Gubernur Jakarta/ist

Oleh Imam Wahyudi (iW) *)

Bagian 1

ANIES Baswedan memilih terus berkinerja dengan karya nyata. Ketimbang meladeni “bully” yang tak presisi. Anies tampak tegar. Tak unjuk gentar. Senantiasa santun dan bersahaja. Lontaran kritik cenderung dengki, justru menginspirasi dan memompa motivasi. Anies, sosok “jawara” demi Jakarta.

Serbalintas memaknai sosok Anies Baswedan. Betapa seperlunya dan apa adanya. Langkah mengumbar berkah. Bagi umumnya warga Jakarta. Gilirannya, menuai pesona nusantara. Hari-hari ini, tak terasa menjelang akhir jabatan gubernur. Lima tahun memimpin tata-kelola ibu kota negara. Unjuk berjaya. Cukuplah lewat cerita dan berita soal hasil kerjanya. Kini, giliran dan saatnya bicara tentang Anies dan negeri tercinta Indonesia.

Harapan Indonesia adalah Anies Baswedan. Anies Baswedan adalah harapan Indonesia. Meminjam model slogan masa lalu. Rasanya tak berlebihan. Tak hendak mengada-ada. Kiranya pula, seirama gaung suara di persada.

Penulis ingin menjadi bagian pertama gelombang pro Anies Baswedan. Lewat catatan ringan (caring) tanpa harus mengerjitkan dahi. Narasi tiga alenia di atas, mestinya cukup sebagai argumen. Tentu, di luar zig-zag politik yang lumrah terjadi. Toh, kelak menjadi keputusan politik. Perihal calon kandidat Presiden RI periode anyar.

Layaknya pemilihan presiden secara demokratis. Di negara besar bernama Indonesia. Negara kepulauan terbesar di dunia. Dengan luas wilayah garis pantai 54.716 km. Berpenduduk lebih 273,8 juta jiwa, kaya budaya dan kemajemukan. Demi Indonesia Merdeka yang Berkemajuan. Daripadanya dibutuhkan pemimpin visioner dan kapabelitas mumpuni. Presiden sebagai kepala negara, sekaligus kepala pemerintahan.

Haruslah memadai Ikhwal “Bibit Bebet Bobot”. Bab latar kandidat, tingkat kemampuan serta kualitas kepribadian dan pencapaian. Tiga hal kriteria umum dalam perjodohan. Serupa alat kalibrasi guna menentukan calon menantu yang baik bagi. Harapan kelola rumah tangga pun seperti itu. Apalagi kebutuhan negara dan bangsa.

Prasyarat “Bibit Bebet Bobot” sudah cukup dimiliki sosok Anies Baswedan. Serupa bekal “fit and proper test”. Dia layak dan punya kepatutan. Tak sulit mengakses dan beroleh info seputar itu. Tapak jejak sang kandidat yang mengalir cair. Menyejukkan.

*

Bagian 2

Pilkada DKI Jakarta lima tahun silam, yang diduga bakal ricuh — nyatanya damai. Lantaran mayoritas warga menentukan pilihan tepat. Sosok Anies Baswedan, gubernur terpilih pun membuat sejuk.

Penulis tak harus lebih dulu kenal untuk menyatakan respek. Sebagai warga Bandung sengaja tandang ke Jakarta, 19 April 2017. Menyaksikan suasana hari pencoblosan. Selepas siang, saya sudah merasakan getaran kemenangan. Menjelang sore di rumah Prabowo Subianto, Jl. Kartanegara, Kebayoran Baru, Jakarta — gegap gempita. Kabar gembira menggema di antara sesak pendukung. Pasangan Anies Baswedan – Sandiaga Uno unggul. Jadilah Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta Terpilih. Periode tugas 2017-2022. Lepas senja, kami balik Bandung. Dengan rasa suka dan turut berbangga. Cuma itu. Ekspresi rasa respek tadi.

Bukan warga Jakarta, penulis tak pernah sekali pun — sekadar bertatap muka. Apalagi jumpa. Padahal Anies dikenal “anybody welcome”. Setidaknya, rasa “welcome” itu terobati pada akhir pekan kemarin. Para jemaah Mesjid At Taqwa di Balikpapan, Kalimantan Timur — merasakan kesejukan hati. Anies Baswedan menunaikan shalat subuh berjamaah. Anies dianggap rendah hati alias “humble”. Ramailah posting di laman faceBook.

Kunjungan tak beragenda itu dilakukan, sebelum gabung Presiden Jokowi. Dalam rangka Kemah Presiden di Titik Nol lokasi ibukota Nusantara (IKN), Kab. Penajam Paser Utara, Kaltim. Bahkan sejak turun di bandara, Anies sudah disambut suka cita warga. Makna terkandung, sosok ini sudah dikenal luas. Melampaui batas teritorial kekuasaannya di Jakarta. Tak kurang lewat pemberitaan di layar TV dan kanal YouTube.

Anies Baswedan tak cuma sekali dua melakukan kunjungan ke luar wilayah garapan. Tak sekadar silaturahmi dengan tokoh warga setempat. Pun bertajuk kerjasama antardaerah. Di Sumedang, Jabar misalnya — sepakat kerjasama pemasok pangan bagi warga Jakarta. Anies pun menyempatkan ke Kuningan. Napak tilas masa bocah di kota (kabupaten) kelahirannya 52 tahun silam.

Menghadiri “panen raya” di Majenang, Kab. Cilacap, Jateng. Ke Madiun dan Ngawi di Jatim. Pun di Yogyakarta, Anies Baswedan mengaku sebagai orang Jawa dan Yogya tulen. Bukan Arab. Selain itu, termasuk golongan ahlussunnah wal jamaah. Sebut saja “Safari Lintas Provinsi”. Menginspirasi marak deklarasi dukungan Anies Baswedan Capres 2024. Meliputi sebagian besar provinsi se-Indonesia. Berkorelasi hasil survei yang menempatkannya di urutan atas.

Per hari ini, Anies Baswedan mencatat elektabilitas tertinggi 34,8 %. Mengungguli Ganjar Pranowo (18,2%). Dalam hal simulasi dua nama, data Populi Center — Anies unggul 59,8% berbanding 33,3% milik Ganjar. Dalam hal popularitas dari hasil survei 26 Januari – 01 Februari 2022, Anies memimpin 87,3% di atas Sandiaga Uno 86,2%. Itu gambaran selintas. Masih dinamis hingga 1-2 tahun mendatang. Setidaknya memberi gambaran kepada khalayak.

Elektabilitas dan popularitas Anies dapat diartikan pula dalam posisi akseptabel. Dapat diterima. Cocok barang itu. Pantaslah Anies Baswedan menyandang predikat Sang Kandidat.

***

Bagian 3

Sang kandidat yang mumpuni. Bukan demi sesaat. Bukan sebatas seputar Monas. Tak terbayangkan sebelumnya, merangkai paduan suara nusantara.

Tak kurang dari Gubernur Sumut, Edy Rahmayadi sempat berkelakar. Saat mengajak warga berperan membangun wilayahnya. “Tidak mungkin harus meminta bantuan Gubernur DKI, Anies Baswedan untuk membangun Sumut,” selorohnya. Bisa jadi apresiasi akan pembangunan Jakarta. Sejalan itu adalah peran Anies sebagai kepala daerah.

Anies pun merangkai langkah simpatik. Tak hendak mengarah pencitraan tanpa tujuan. Dia mengunjungi Rumah Pengasingan Bung Karno dan Rumah Ibu Fatmawati di Kota Bengkulu. Masih dalam kapasitas Gubernur DKI Jakarta, mengubah nama Jl. Inspeksi Kalimalang — menjadi Jl. Laksamana Malahayati. Sebuah penghargaan kepada pahlawan Aceh dan warganya.

Pun pemugaran makam Sultan Alaiddin Muhammad Daud Syah di di TPU Utan Kayu, Jakarta Timur pada 2021. Sultan Aceh ke-35 (terakhir) itu wafat di Jakarta, 03 Februari 1939. Pahlawan nasional yang tak menyerahkan kedaulatan Aceh kepada Belanda. Aceh adalah satu-satunya wilayah Nusantara yang tak pernah takluk kepada kolonial. Penghormatan Anies Baswedan, semata demi keluasan Indonesia.

Gubernur Anies Baswedan juga berbagi rasa. Tak melulu untuk Jakarta. Mengirimkan Satgas Kolaborasi Kemanusiaan ke daerah terdampak gempa di Pasaman Barat, Sumbar. Berjumlah 80 orang relawan.

Dalam setiap kunjungan silaturahmi ke daerah lain, senantiasa meninggalkan kesan persahabatan. Gayung bersambut deklarasi dukungan Anies Baswedan Capres 2024. Sebaliknya respons Anies soal maraknya dukungan. Saat “talk show” di Makasar, Anies menganalogkan deklarasi dengan kumandang adzan. Ya, menunggu saatnya nanti. Rasanya hanya soal waktu. Roda itu mulai berputar searah. Menanti perintah. Hehehe.

Anies, pemimpin daerah yang senantiasa bersikap negarawan. Berbalut nilai akademisi, dalam setiap kata ungkapan. Bahkan saat berpidato. Berperforma sebagai komunikator andal. Konduktor orkestra yang menjanjikan simfoni. Bagimu negeri Ibu Pertiwi.

***

Bagian 4

Langkah bersahaja dengan karya nyata, mengantarkan Anies Baswedan berjuluk juara. Sederet penghargaan berjajar di Balai Kota Jakarta. Bukti visual atas kinerjanya.

Penghargaan atasnama kelembagaan, tentu tak terlepas sentuhan dan perannya. Dalam kurun lima tahun pengabdian, lebih dari 60 penghargaan. Mungkin 100an. Beragam klasifikasi dan kategori. Gubernur DKI Jakarta berkarya untuk seluruh warga.

Sejalan motto, saat kampanye pilkada 2017. “Maju Kotanya, Bahagia Warganya”. Konon, spontanitas dari interaksi sosial yang menginspirasi. “Penghargaan yang menggambarkan kinerja dan inovasi pembangunan Kota Jakarta,” kata Anies Baswedan dalam LKPJ tahun anggaran 2020. Saat itu, Anies tak sungkan memboyong 12 buah penghargaan di forum Rapat Paripurna DPRD Jakarta. Anies menginspirasi khalayak sebagai Sang Kandidat.

***
Dalam setahun masa jabatan gubernur, tercatat lebih dari 14 penghargaan. Diawali Opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) atas Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD) DKI Jakarta 2017 dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Selanjutnya sepanjang 2018, meliputi : Anugrah “Obsession Award” kategori “Best Achiever in Regional Leader”; dan Top Pembina BUMD dari Majalah Business News.

Presiden Jokowi menyerahkan penghargaan kepada Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan pada 2018. Bidang “Universal Health Coverage (UHC) pada Jaminan Kesehatan Nasional – Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS). Selanjutnya penghargaan “One Planet City Challenge & We Love Cities 2018” (kota paling dicintai), Keterbukaan Informasi Publik dari Komisi IP, dan “Bapak Peningkatan Kompetensi Guru Indonesia” dari Ikatan Guru Indonesia (IGI).

Penghargaan lainnya dalam 2018, antara lain:
– Top 40 Inovasi Pelayanan Publik dari Kemenpan RB,
– Perencanaan Pembangunan Terbaik dari Kementerian PPN,
– Indeks Pembangunan Ketenagakerjaan (Integra) dari Kemennaker,
– “Grand Property Award” ,
– Tiga Penghargaan KPK dalam rangka Hari Antikorupsi Dunia. Meliputi kategori Penerapan Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN), Pemda dengan nilai gratifikasi terbesar menjadi milik negara dan sistem pengendalian gratifikasi terbaik. Terakhir penghargaan Reksa Bahasa dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa — Kemendikbud.

Penghargaan lain adalah “Jakarta Layak Anak 2019” dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI). Tak kecuali kategori “Pemda Peduli Anak”. Dalam tahun yang sama, beroleh penghargaan sebagai Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Terbaik tingkat Provinsi se-Jawa Bali. Pun anugrah dari Badan Pengawas Tenaga Nuklir. Puncaknya, Jakarta juara umum Seleksi Tilawatil Qur’an & Hadits (STQH) Nasional ke-25 di Pontianak.

Tercatat 50 penghargaan dalam setahun pada 2020/2021. Antara lain tiga “Top BUMD Awards”, “Sustainable Transport Award” untuk sistem transportasi kota berkesinambungan dan “Innovative Government Award” (IGA) dari Kemendag. Juga “Sustainable Transportation Award” bidang pengembangan program integrasi antarmoda transportasi publik. Lantas, penghargaan dari Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU). Lanjut, “IDC Future Enterprise Award”. Bahkan “Top Digital Award” meliputi lima kategori.

Tahun yang sama, penghargaan “Pahlawan 21 Heroes 2021” dari Transformative Urban Mobility Initiative (TUMI). Diperuntukkan 21 tokoh dunia dalam peningkatan transportasi umum massal selama pandemi Covid-19.

***
Anies Baswedan melangkah dengan kerangka visi Gubernur Jakarta. Kota maju, lestari dan berbudaya yang warganya terlibat dalam mewujudkan keberadaban, keadilan dan kesejahteraan bagi semua.

Seirama “Jakarta Jaya Raya”. Berjaya dan agung (juara). Dalam kebersamaan, bersahaja untuk seluruh warga. Pada gilirannya, merebak ke berbagai penjuru negeri tercinta. Anies Baswedan, Sang Kandidat.

****

Bagian 5

PRASYARAT “Bibit Bebet Bobot”, tentu penting dan perlu. Dalam kekinian tentang calon pemimpin Indonesia. Anies Baswedan, sebutlah Sang Kandidat — terbilang sarat prasyarat.

Pilpres bukan cuma artian tradisi demokrasi lima tahunan. Hendaknya dimaknai sebagai elektoral tentang masa depan Indonesia. Harapan seluruh lapisan warga. Lebih dekat pula pergaulan dunia yang kian global. Anies Baswedan dirasa mampu menjawab sederet harapan dan tantangan.

Sosok Anies Baswedan dengan sendirinya, menjelaskan asal-usul. Terlahir dan dibesarkan di lingkungan keluarga yang sarat atribut pendidikan. Itulah tentang “bibit”.

Lahir di Kuningan, Jawa Barat, 07 Mei 1969 — Anies kecil tumbuh dan berkembang di jalur pendidikan. Ayahnya, Drs. Rasyid Baswedan adalah dosen Fak. Ekonomi dan pernah Wakil Rektor Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta. Sang ibu, Prof. Dr. Aliyah Rasyid, M.Pd. dikenal sebagai guru besar dan dosen pada Fak. Ilmu Sosial & Ilmu Politik, Universitas Negeri Yogyakarta (UNY).

Perhatian dan pengabdian orangtua dalam dunia pendidikan, menginspirasi Anies Baswedan. Langkah demi langkah dilalui dengan prestasi. Di Yogyakarta. Dia harus melonggarkan waktu setahun kelulusan SMA (1985-1989). Terpilih ikut Pertukaran Pelajar Indonesia-Amerika lewat program “American Field Service” (AFS). Setahun tinggal di Milwaukee, Winconsin, AS. Pengalaman pertama usia muda, yang kelak mengantarkan Anies muda berselancar pendidikan tinggi di negeri Paman Sam itu. Melulu berbekal prestasi berwujud beasiswa. Kini, tertulis namanya : H. Anies Rasyid Baswedan, SE, MPP, Ph.D.

*
TAK sulit menelusuri tapak jejak Anies Baswedan. Sarat pengalaman organisasi dan prestasi pendidikan. Lewat sentuhan awal di organisasi intra sekolah (OSIS), ketua senat mahasiswa hingga ekstra universitas HMI (Himpunan Mahasiswa Islam). Anies menginspirasi lahirnya Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM). Sejauh itu, dia sudah unjuk peran “leadership”. Memimpin delegasi 300 siswa SMA Yogyakarta dalam pelatihan nasional di Jakarta 1985. Praktis, saat tahun pertama di SMAN 2 Yogyakarta — sebelum (setahun kemudian) terpilih ikut program AFS ke Amerika.

Usai rampung studi Fak. Ekonomi Universitas Gajahmada 1995, Anies muda tak surut melangkah. Beasiswa demi beasiswa diraihnya. Diawali dari Japan Airlines Foundation di Universitas Sophia, Tokyo. Studinya tentang kajian Asia. Berikut terbang (kembali) ke Amerika Serikat. Program magister dan doktor di School of Public Affair, Universitas Maryland, College Park, AS (1997). Anies menempa studi bidang Keamanan Internasional dan Kebijakan Ekonomi. Sejalan itu, Anies beroleh anugrah “William P. Cole III Fellow” dari Maryland itu dan lanjut Asean Study Award.

Selanjutnya program S-3 di Universitas Northern, Illinois, AS, 2005. Anies berhasil pertahankan desertasi berjudul “Otonomi Daerah & Pola Demokrasi Indonesia”. Prestasinya membuka ruang lebar sebagai pembicara di berbagai konferensi internasional. Bersamaan itu, mahir menulis artikel untuk media publik.

Kembali ke Indonesia, Anies menjadi National Advisor bidang desentralisasi & otonomi daerah di Kemitraan bagi Pembaruan Tata Pemerintahan, Jakarta. Pun sebagai peneliti utama Lembaga Survei Indonesia (LSI). Mulai menapak ke puncak. Anies unjuk Rektor Termuda di Universitas Paramadina, mulai 2007. Lembaga pendidikan tinggi prestisius di Jakarta yang digagas Nurcholis Madjid (Cak Nur) pada 1998. Majalah “Foreign Policy” merilis Anies Baswedan sebagai “100 Intelektual Dunia”. Luarbiasa!

Serbalintas tapak jejak di atas menggambarkan anak tangga prestasi mumpuni sosok Anies Baswedan. Tapak Sang Kandidat yang hebat dan tak perlu diperdebat. Dia mengalir apa adanya dan nyata. Istimewa di jalur pendidikan. Bagai jalan tol bebas hambatan.

*
Hari-hari ini, kita sejatinya tengah mewacanakan tentang Indonesia masa depan. Jawaban mutakhir adalah Anies Baswedan.

Tak sekadar prestasi pendidikan yang bagai semburat harapan. Anies memancarkan cahaya bersinar. Tak kecuali dalam alur politik sebagai pendekatan utama menuju kepemimpinan nasional.

Niat dan tekad mengisi kemerdekaan lewat pendidikan formal semata, tidaklah cukup. Anies merasa perlu melibatkan banyak orang. Gagasannya, “Gerakan Indonesia Mengajar” mengantarkan Anies Baswedan ke pentas politik.

Menjadi bagian Tim Transisi kepemimpinan Jokowi – Jusuf Kalla 2014, menempatkan Anies ke kursi Mendikbud. Meski hanya dua tahun, Anies lanjut melangkah. Lewat pilkada 2017, Anies Baswedan terpilih Gubernur DKI Jakarta. Selama jabatannya, dia melanjutkan komitmennya. Bahwa bangsa Indonesia haruslah diisi manusia-manusia berkepribadian dan berbudaya unggul. Demi kemajuan dan kesejahteraan Indonesia.

Anies Baswedan kian menasional. Gaunnya meliputi seluruh negeri. Sang Kandidat mumpuni. Sarat prestasi.

*****

Bagian 6

Tapak jejak prestasi Anies Baswedan tak pernah henti. Langkah pengabdian mengalir. Nyaris tanpa jeda.

Jakarta di tangannya makin berjaya. Meski kenyang mengenyam pendidikan di Amerika, tak menjadikannya jumawa. Gubernur yang santun bersahaja. Prestasi Jakarta pula yang mengantarnya kembali berkunjung ke Amerika. Berulang kali.

Bukan untuk melancong. Berbagai kunjungan atasnama prestasi dan reputasinya. Dalam dua tahun menjabat gubernur, Anies tercatat tujuh kali kunjungan kerja ke luar negeri. Di antaranya dengan biaya pribadi. Pun ke Washington DC untuk kali ke-7. Tak terbayangkan, Anies menyampaikan pemikiran dan gagasan di forum internasional. Fasih berbahasa Inggris, fasih dan lincah — di antara intonasinya Sungguh, layak menjadi Sang Kandidat mendatang. Indonesia yang menantang dalam pergaulan dunia.

Bukan cuma Amerika. Anies Baswedan, semasa menjabat Gubernur DKI Jakarta — juga pernah diundang sebagai pembicara di forum mancanegara. Antara lain acara “The Thirth Edition of Smart Cities Africa di Casablanca, Maroko dan forum pembangunan kota di Singapura.

Anies menjadi “keynote speaker” di forum “The Pyramids Annual Post” atas undangan Menlu Singapura. Juga forum “Urban 20 (U20) Mayors Summit” di Tokyo, Jepang. Sebuah pertemuan pemimpin ibukota negara anggota G-20. Anies merupakan satu-satunya gubernur yang diundang berbicara di tiga forum berbeda agenda itu. Bersamaan perayaan “Sister City Jakarta – Tokyo” ke-30.

Forum serupa di Tokyo, Anies kembali ke pertemuan antarpemimpin ibukota negara “Urban 20” (U20) di Buenes Aires, Argentina. Menjadi pembicara di forum “Istanbul Water & Waste Management” di Turki. Selanjutnya “The World Cities Summit Mayors Forum 2019” di Medellin, Kolombia. Berlanjut simultan menghadiri forum “United States – Indonesia Society (USINDO) di Washington DC, AS.

Sederet kunjungan dan pembicara di forum internasional sebagai catatan prestasi dan reputasi Anies. Tentu, sekaligus mempromosikan Kota Jakarta dan umumnya Indonesia nan kaya budaya. Bila kelak, Anies Baswedan menjadi capres — bakal mengalir dukungan. Deras.

******

Bagian 7 (tamat)

Sosok rendah hati yang popularitasnya menggelinding. Fenomenal menasional. Meniti anak tangga menuju puncak harapan. Lagi, Anies Baswedan — sang Kandidat.

Jawa Barat bakal jadi “lumbung” suara, setelah Jakarta dan sekitar. Hingga Banten. Tak kecuali Yogyakarta. Hubungan emosional bakal terajut, hingga merambah daerah se-nusantara. Jawa Barat, tempatnya dilahirkan. Di kota kecil Kuningan, belahan timur tanah Parahyangan. Anies tumbuh di lingkungan keluarga ramah pendidikan. Kedua orangtuanya berprofesi pengajar. Anies pun beraroma Jawa Timur. Kota pahlawan Surabaya, tempat kelahiran kakeknya — Abdurrahman Baswedan. Sejumlah daerah lainnya tak surut sentuhan emosional Anies.

Yogyakarta jadi “kawah candradimuka” bagi Anies muda. Jenjang pendidikan menengah pertama dan atas hingga perguruan tinggi. Kelak, kiprah dan langkah pengabdian masyarakat di Jakarta. Menorehkan prestasi mumpuni dan membumi. Tak sekadar sebutan gubernurnya Indonesia. Selangkah di depan, sejatinya tentang Indonesia.

Berjaya memimpin Jakarta, membuktikan bekal Anies tak sebatas keputusan politik. Kemampuan “leadership” dalam kinerja, berbalut komitmen inovasi dan kreasi. Bermodal prestasi pendidikan, mendorong realisasi dan atau capaian program ke arah presisi. Tak kecuali, sebelum berhasil menerbangkan Jakarta Berjaya — Anies sudah unjuk kegiatan riset dan analisis kebijakan publik. Pas dan saatnya lepas landas.

***
KIAN jelas tentang Apa dan Siapa Anies Baswedan?! Kedua orangtuanya pegiat pendidikan. Anies pun berjuluk “istimewa” dalam jenjang studi. Pada gilirannya, tumbuh sebagai pribadi mandiri sarat prestasi.

Dalam peribahasa Sunda, “Ujah tara tees ka luhur”. Punya arti sama dengan “Buah tidak jatuh jauh dari pohonnya.” Silsilah keluarga menunjukkan muasal bibit unggul.

Kakek Anies adalah Abdurrahman Baswedan (09 September 1908 – 16 Maret 1986) — adalah Pahlawan Nasional. Semasa hidupnya — dikenal sebagai nasionalis, pejuang kemerdekaan, jurnalis, diplomat, mubaligh, dan sastrawan Indonesia.

Abdurrahman Baswedan yang akrab disapa ARB, pernah menjabat Wakil Menteri Muda Penerangan RI pada Kabinet Sjahrir. Sebelumnya anggota Badan Penyelidik Usaha dan Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat (BP-KNIP), Anggota Parlemen, dan Dewan Konstituante. ARB diplomat pertama Indonesia yang diutus untuk mendapatkan pengakuan “de jure” dan “de facto” pertama bagi eksistensi Republik Indonesia dari negara Mesir.

***
Anies Baswedan selaku cucu ARB pun — akrab disapa ARB pula. Initial dari nama Anies Rasyid Baswedan. Nama dan initial sama terkandung makna. Tak sebatas silsilah, melainkan niat dan tekadnya melanjutkan kiprah pergerakan dengan spirit nasionalisme.

ARB yang satu ini Gubernur DKI Jakarta dikenal pula sebagai seorang intelektual dan akademisi. ARB yang siap tinggal landas untuk Indonesia. Anies Rasyid Baswedan, sebut saja: Anies, Sang Kandidat!***

*) Imam Wahyudi, Ketua Komunitas Wartawan Senior (KWS) Jawa Barat.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.