KEHORMATAN MILIK SIAPA?

0
420
Radhar Tribaskoro/ist

Oleh Radhar Tribaskoro

PERTANYAAN ini perlu dilontarkan karena polemik RKUHP belakangan ini mempersoalkan, antara lain, larangan penghinaan kepada “presiden dan wakil presiden (pasal 218 dan 219), pemerintahan (pasal 240 dan 241), kekuasaan umum dan lembaga negara (pasal 353 dan 354)”.
Sudah banyak bantahan dan penolakan dari sisi hukum maupun politik atas “pemberlakuan kembali” pasal-pasal haatzai artikelen itu. Saya tidak akan mengulangi namun saya ingin memperkaya perspektif dengan mencoba menampilkan pandangan dari para seniman, budayawan, aktivis sosial dan filsuf atas perkara ini.
Mereka pada umumnya tidak mewakili pandangan politik tertentu tetapi kita selalu terinspirasi oleh pemikiran mereka yang menjangkau jauh ke generasi dan peradaban di masa depan. Fokus dari diskusi ini adalah pandangan tentang harkat dan martabat. Menkunham Yasonna Laoli berdalih bahwa pasal penghinaan wajib dicantumkan dalam KUHP demi melindungi harkat dan martabat presiden dan wakil presiden.
Tetapi apakah harkat dan martabat atau dignity itu? Bagi Antonio Guterrez, Sekjen PBB, hak dan harkat martabat manusia sangat penting. Katanya, “Kalau kita bisa menghormati hak dan martabat manusia, maka mereka nanti yang akan menciptakan dunia yang damai, adil dan berkelanjutan. Adapun harkat dan martabat dapat dipahami sebagai kehormatan. Pasal 1 dalam Deklarasi HAM PBB 1948 mengatakan bahwa “Semua manusia dilahirkan bebas dan setara dalam hak dan harkat martabatnya”.
Namun harkat martabat itu rentan dirampas orang. Karena itu orang Jerman menuliskan dalam UUD Jerman 1949, bahwa hak dan martabat manusia tidak dapat diganggu-gugat (inviolable). Negara berkewajiban menghormati martabat itu dan melindunginya. Siapapun yang ingin merampas hak dan martabat seseorang ia harus tahu bahwa ia akan berhadapan dengan aparat negara.
Menjadi bukan memiliki.
Kehormatan, dalam pada itu, dapat dianggap sebagai property yang nilainya naik atau turun. Tetapi nilai dari property itu bukan terletak pada seberapa tinggi kedudukan yang anda raih. Aristoteles mengatakan, yang paling penting itu adalah seberapa pantas anda memilikinya. Kehormatan, kata Aristoteles, hanya pantas bila diperoleh melalui kebajikan (moral virtues).
Seorang Hitler atau Mussolini pernah meraih kedudukan tertinggi di negaranya, namun sekarang kuburan saja mereka tidak punya. Martabat, karenanya, tidak bertalian dengan kedudukan namun berhubungan dengan kehormatan yang diperoleh tatkala menjalankan kebajikan. Sementara berbuat kebajikan pada dasarnya adalah urusan anda dengan diri anda sendiri.
Self-respect
Bila kehormatan adalah masalah kebajikan, berbuat kebajikan membutuhkan disiplin untuk mengarahkan tindakan anda agar sesuai dengan kebajikan itu. Filsuf Abraham Heschel mengatakan, buah dari disiplin itu adalah self-respect atau penghormatan kepada diri sendiri, yaitu perasaan menjadi manusia bermartabat yang tumbuh bersama dengan kemampuan mengatakan tidak kepada diri sendiri.
Dengan begitu, kata Colin Bird, martabat menjadi properti batin yang tidak bisa hilang, terkubur begitu jauh di dalam diri sehingga tidak ada yang akan cedera sekalipun ada orang menyentuh dan mengganggunya.
Celakanya, masih banya orang yang beranggapan bahwa martabat adalah property yang melekat pada jabatan. Bila kedudukan hilang, martabat pun akan hilang. Orang-orang ini melihat martabat sebagai hak, mereka akan tersinggung dan marah ketika seseorang mempersoalkan perbuatan dan perilakunya.
Hal ini lumrah di masa feodal ketika seorang penguasa menganggap kekuasaannya datang dari Tuhan. Sekarang jaman berubah, di era demokrasi kedudukan adalah ujian. Kehormatan hanya akan datang bila ia lulus dari ujian itu.
Resiprokal
Kehormatan sebagai batu ujian mengungkapkan dimensi lain dari martabat, yaitu resiprokalitas atau asas timbal balik. Maya Angelou, penulis perempuan pertama yang berorasi dalam pelantikan presiden AS 1993, menggaris-bawahi pendapat Heschel.
Menurut Maya, sebagai orang bermartabat anda pantas mendapatkan yang terbaik. Anda yakin bahwa apa yang ingin anda sampaikan adalah hal penting, dan anda akan menyampaikannya pada saat yang anda rasa penting.
Namun jauh di dalam diri anda pun memahami bahwa bila anda menuntut perlakuan terbaik, maka berlaku resiprokalitas: anda bertanggung-jawab memberikan perlakuan terbaik kepada orang lain.
Bungkus
Sayangnya realitas sehari-hari mengatakan hal sebaliknya. Banyak pejabat menuntut diperlakukan terhormat sementara mereka tidak ragu berkhianat. Kehormatan itu (karpet merah, posisi kursi, pengiring, gaji, business class) cuma bungkus.
Semata penutup seperti jas atau rompi, kata Charles Dickens penulis Tom Sawyer yang masjhur itu. Martabat mewajibkan anda meninggalkan bungkus atau basa-basi. Martabat berkenaan dengan sikap apa adanya, jujur. Tanpa kejujuran anda memusnahkan martabat anda sendiri, kata Immanuel Kant. Hidup dengan jujur memang tidak mudah, tetapi itu adalah pilihan.
Tidak ternilai. Ilahiah
Martabat tidak ternilai harganya. Mati dengan tetap bermartabat, kata Imam Husen bin Ali, lebih baik daripada hidup dengan kehinaan. Sebab martabat adalah buah dari perjalanan di dalam kebajikan.
Perjalanan itu sulit karena kebajikan selalu bertentangan dengan kejahatan. Hukum manusia saja tidak cukup melindungi anda di dalam perjalanan itu. Kata Mahatma Gandhi, manusia membutuhkan ketaatan pada hukum yang lebih tinggi, yaitu hukum Tuhan.
Sukarela
Sebagai manusia kita dilahirkan dengan hak dan martabat yang sama. Kita harus melindungi hak dan martabat itu dari incaran orang lain. Tetapi tidak mungkin hal itu dilakukan karena berarti akan tercipta “perang semua melawan semua”.
Thomas Hobbes, guru yang menjadi filsuf itu, mengatakan, kita memerlukan negara untuk mencegah perang total itu. Negara kita dirikan untuk mencegah direnggutnya hak dan martabat seseorang oleh orang lainnya. Untuk maksud itu kita memberi negara hak memonopoli kekerasan, atau dengan kata lain, kita menyerahkan hak kekerasan untuk melindungi diri kepada negara.
Setelah hak dan martabat dasar kita terpenuhi (dilindungi negara) menjadi tugas kita sendiri untuk memupuknya. Hak milik kita mungkin akan menaik berlipat, begitu juga kepercayaan diri (martabat) kita. Seseorang mungkin ingin merenggut martabat kita. Ia akan menyerang, merusak dan mengejek dengan brutal.
Tetapi semua itu tidak akan pernah bisa mengambil martabat kita. Martabat itu hanya bisa diambil, jika kita sendiri menyerahkannya, kata Michael J. Fox, aktor dalam film Back to The Future.
Menyerah atau Melawan
Ketika seseorang meminta anda menghormati dirinya dan mengancam akan membungkam anda bila tidak menuruti, apakah anda akan diam? Para seniman dan budayawan acap meresponnya dengan humor. Romain Gary, novelis dan sutradara berkebangsaan Perancis mengatakan bahwa humor menegaskan kemandirian martabat.
Di dalam humor dideklarasikan superioritas manusia terhadap apapun yang menimpanya. Seniman juga menyikapi rudapaksa dengan seloka. Adhie M. Massardi, penyair Bekasi yang pernah menjadi juru bicara Gus Dur, dalam puisi berjudul Hikayat Boneka Kayu Dalam 5 Babak bertanya, “Kenapa kau berikan kepada Geppetto balok kayu curian dari hutan tropis itu, Carlo?” Adhie bertanya kepada Carlo Collodi penulis kisah Pinokio yang terkenal itu.
Di dalam pertanyaannya itu Adhie menggugat kepada semua orang yang turut andil menciptakan bala di negara. “Apa yang telah kalian lakukan?” Pada saat yang sama ia juga bertanya kepada kita semua, “Apa yang akan kita lakukan?”
Penutup
Jadi, apakah pejabat dan lembaga negara pantas memperoleh kehormatan? Pantas memperoleh perlindungan hukum karenanya? Para penulis, budayawan dan filsuf yang saya kutip di atas tidak seorang pun membincangkan martabat pejabat atau lembaga negara.
Martabat itu fitur pada manusia yang memiliki kesadaran. Pejabat dan lembaga negara itu bikinan manusia, seperti robot, tidak memiliki kesadaran. Akan lucu sekali bila polisi mendatangi dan memenjarakan anda demi kehormatan seekor robot.
Tetapi para pejabat dan pimpinan lembaga adalah manusia juga, mereka bisa marah dan sakit hati. Betul, namun mereka tidak pantas marah dan sakit hati. Rakyat sebagai daulat negara memiliki hak mencerca dan menista orang-orang yang mereka beri kepercayaan.
Bersyukurlah, cercaan dan penistaan tidak membunuh, tidak menangkap, tidak mengurangi gaji. Kalau anda tidak suka dicerca dan dihina, mundur saja.
Setelah itu anda bisa minta perlindungan hukum kalau orang masih menghina sementara anda sudah tidak menjabat. Jalan terbaik menghindari penghinaan adalah bekerja lebih baik. Jawab penghinaan dengan prestasi, niscaya hinaan itu akan mereda. ***

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.