Wartawan Senior, Jus Soema Di Praja: Pers Harus Lawan Rezim Otoriter Norak

0
200
Jus Soema di Praja/aendramedita

JUS SOEMA DI PRAJA, SEORANG WARTAWAN SENIOR YANG PERNAH BEKERJA DI HARIAN INDONESIA RAYA DAN KOMPAS MEMBEBERKAN PERJUANGAN WARTAWAN YANG BERHADAPAN DENGAN SEGALA RISIKO DAN PEM-BULLY-AN.

“Wartawan itu selalu di-bully. Jadi wartawan itu penuh dengan risiko. Jangan dianggap enteng,” ungkap Jus saat menghadiri acara diskusi sekaligus buka bersama jurnalis Jakartasatu.com dan InfoPresiden.com di Kampoeng Kopi Kemang, Jakarta Selatan, Kamis (06/04/23).

Wartawan veteran tersebut mengatakan, pers bertanggung jawab menjelaskan peristiwa yang terjadi. Ia menceritakan pengalamannya keluar dari Kompas karena mengikat perjanjian dengan pemerintah. Terlebih lagi, saat ini keadaan sudah semakin krisis dengan yang Jus sebut sebagai rezim ‘otoriter norak’.

“Ini rezim otoriter dan norak, dan pers kita sudah keadaan kayak begini nggak ada yang mau bergerak. Pers mainstream itu. Dituruti aja apa keainginan dia (pemerintah),” kata Jus.

Menurutnya, Presiden Joko Widodo merupakan presiden terburuk di sepanjang 70 tahun ini. Jus juga menyampaikan bahwa terjadinya kebakaran kilang-kilang minyak merupakan bagian dari intellegent operation. Sejarah politik Indonesia dikatakannya tidak pernah berubah, hakim dan jaksa pun dapat diatur.

“Ini Indonesia nggak bisa begini. Hancur Indonesia ini. Jadi ini keadaan super super krisis, perhatikan intellegent operation,” tegasnya.

Jus menambahkan, pemerintah takut dengan gerakan mahasiswa. Oleh karena itu, sering terjadi penganiayaan terhadap mahasiswa dan intelejen memboceng gerakan mahasiswa tersebut.

“Saya kira pemilu (2024) nggak ada. Pemilu nggak ada dan akan terjadi huru hara. Tapi si intelejen ini menunggu gerakan mahasiswa. Ia memboceng sama gerakan mahasiswa,” paparnya.

Di akhir pemaparannya, Jus berpesan agar para jurnalis tidak takut dibungkam oleh pemerintah. Untuk tidak bergantung pada rezim dan memberikan informasi tentang keadaan yang sebenarnya meskipun wartawan selalu di-bully dari masa ke masa.

“Jangan takut. Berikan informasi yang akurat kepada masyarakat kita. Jangan seperti pers mainstream. Tapi pers harus melawan rezim otoriter norak,” tutupnya. (PRB-JAKSAT)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.