YKBM Lakukan Pelestarian Budaya Lokal Melalui Pewarisan Seni Longser

0
307

PRIBUMINEWS – Yayasan Kebudayaan Bandoeng Mooi (YKBM) bersama kumunitas Longser Bandoengmooi Kota Cimahi didukung Kementerian Pendidikan, Kebudayaan Riset dan Teknologi (Kemdikbud Ristek), Dana Indonesiana dan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) melalui Program Layanan Fasilitasi Bidang Kebudayaan bagi Komunitas dan Pelaku Budaya Kategori Dukungan Institusional bagi Keberlangsungan Organisasi Kebudayaan tahun 2023, gelar pertunjukan seni longser “Pendekar Gunung Bahong”, Kamis 30 Mei 2024, pukul 19.30 WIB di Gedung Pusat Kebudayaan (YPK) Jawa Barat, Jl. Naripan No.7-9 Kota Bandung, Sabtu 1 Juni 2024 pukul 19.30 WIB di Komplek Rancamanyar Regensi 2 Baleendah Kabupaten Bandung, dan Ahad 2 Juni 2024 Pukul 08.00 WIB di Plaza Rakyat Komplek Pemerintahan Kota Cimahi, Jl. Radeng Demang Hardjakusumah, Cihanjuang, Kota Cimahi.

Ketua YKBM, Hermana HMT mengatakan, pertunjukan longser Pendekar Gunung Bohong merupakan  resital bagi anggota baru dan lama Longser Bandoengmooi yang mengikuti Prewarisan Seni Longser dalam bentuk pelatihan akting, tari, musik, pencak silat dan manajemen seni selama 4 bulan di YKBM.

“Program publik yang bertemakan Pewarisan mewujudkan pelestarian, inovasi, tata kelola, dan sumber daya seni longser berdaya saing diikuti sekitar 60 orang peserta pelatihan seni longser. Selam 4 bulan mereka berproses di Bengkel Kreatif Bandoengmooi tanpa dipungut biaya, dan dibimbing 5 orang pelatih yang mumpuni dibidanya masing-masing,” ujar Hermana dalam siaran pernya, Selasa (28/5/2024).

Selain melakukan pelatihan seni longser, selama 10 bulan tahun 2024 ini YKMB melakukan beberapa kegiatan, baik kegiatan yang hanya melibatkan pengelola YKMB dan Longser Bandoengmooi, maupun kegiatan kerjasama dengan berbagai elemen masyarakat dan institusi.

“Kegiatannya meliputi pengembangan strategi Keberlanjutan organisasi berupa penyusan konsep pemajuan organisasi dan seni longser dalam kurun waktu 3 tahun ke depan, implementasi rencana jangka pendek berupa pengadaan gamelan, kamera, printer dan komputer, program publik berupa pelatihan dan pertunjukan seni longser, kolaborasi antar Institusi Kebudayaan berupa kerjasama dengan pelaku budaya, komunitas, sekolah seni dan perguruan tinggi dalam bentuk residensi/pemagangan di YKBM, dan  program peningkatan kapasitas berupa pelatihan, workshop, dan diskusi tentang videografi, editing, pengelolaan webset (media sosial) dan tata kelola organisasi bagi sumber daya manusia atau pengelola YKBM,” jelas hermana yang juga seniman Teater di Jabar ini.

Pertunjukan longser Pendekar Gunung Bohong menurut Hermana merupakan ajang evaluasi bagi peserta pelatihan seni longser di YKBM. Meraka didorong mempresentasikan kemampuan dirinya dihadapan publik sekaligus memberi hiburan, edukasi pada penonton dan mengukur penguasaan skill dalam bermain seni longser.

“Terlepas apakah pertunjukan mereka berkualitas atau tidak, saya selaku pegaiat seni longser merasa bangga pada mereka yang terlibat. Ternyata diera yang serba digital dan di tengah gempuran budaya asing yang kian masif, masih banyak anak muda yang mau mendalami seni tradisional khusunya seni longser. Sebenarnya mereka kaum milenial bukan tidak suka pada budaya warisan leluhur, tapi permasalahanya karena tidak banyak orang yang mau mengajak mereka untuk mengenali lebih dalam dan membuka pola pikirnya bahwa budaya lokal bagian penting dari kehidupan mereka,” paparnya.

Dikatakan lebih lanjut Hermana, cerita Pendekar Gunung Bohong tergolang cerita fiktif dan terinspirasi dari sejarah perjuangan masyarakat Kota Cimahi pada masa kolonial Hindia Belanda. Ungkapnya, pendudukan Pemerintah Hindia Belanda pada masa lalu mengakibatkan berbagai kerugian bagi masyarakat pribumi. Demi perluasan wilayah dan pembangunan, tanah milik pribumi banyak yang diambil tanpa ada ganti rugi. Pemerintah Hindian Belanda mengeluarkan kebijakan Domain Verklaring. Sebuah aturan tentang kepemilikan tanah yang menekankan bahwa tanah yang dikuasai masyarakat pribumi dan dinyatakan tidak memiliki bukti kepemilikannya diambil alih menjadi milik pemerintah.

Kebijakan yang dianggap menguntungkan penguasa saat itu tetang oleh sebagian masyarakat pribumi. Mereka meminta pada pemerintah Hindia Belada agar mau memberi konpensasi atas tanah yang sudah terun-temurun dikuasai dan digarap oleh masyarakat, diambilanya.

Pemerintah Hindia Belanda menolak adanya ganti rugi, dan upaya mengahalau masyarakat pribumi yang protes, pemerintah Hindia Belanda merekrut para pendekar (jagoan kampung) untuk dipekerjakan sebagai centeng dan bertugas menjaga aset pemerintah sekaligus menghalau pribumi yang menentang segala kebijakannya. Akibarnya kerebutan terjadi antara centeng pendekar bayaran pemeritah Hindia Belanda dengan pendekar yang membela masyarakat pribumi.

Disamping gelar pertunjukan seni longser, di Rancamayar Baleendah Kabupaten Bandung daerah asal tokoh longser Ateng Japar (alm) digelar jugan pameran kuliner serta pertunjukan musik dari masyarakat Komplek Rancamanyar Regensi 2. Sedangkan di Plaza Rakyat Kota Cimahi digelar pameran kuliner/produk kreatif dari Himpunan UMKM Kota Cimahi, melukis bersam seniman KSR-DKKC dan pertunjukan Degung dari Karang Tarina/PKK Kelurahan Pasirkaliki Cimahi Utara, dan seni lainnya dari perwakilan Dewan Kesenian Kota Cimahi.

“Dengan pergelaran di 3 Kota tempat asal tumbuhnya seni longser, kami berharap masyarakat bisa mengaprseasi dan mengenal kembali seni longser dengan format kekinian tanpa menghilang tradisinya. Selain itu kami pun berharap tiap tahun kaum milenial yang mau terlibat langsung sebagai pelaku seni longser semakin bertambah, dan dalam kurun waktu 3 tahun ke depan kami sedang marancang Kampung Longser di Kota Cimahi,” pungkasnya.***(M/PN)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.