Hendrajit: Perdamaian Antara Keturunan Panembahan Senopati dan Pangeran Pekik Kunci Mengurai Benang Kusut Politik Jawa
Pribuminews.co.id– Pengamat geopolitik Hendrajit menilai bahwa akar kompleksitas politik di Pulau Jawa tidak hanya bersifat struktural dan ekonomi, tetapi juga bersumber dari warisan sejarah panjang antara dua garis keturunan besar: Panembahan Senopati dari Mataram dan Pangeran Pekik dari Surabaya. Menurutnya, perdamaian spiritual dan historis antara dua trah itu harus lebih dulu diwujudkan sebelum berbicara tentang rekonsiliasi politik di tingkat elite maupun masyarakat.
“Harus ada perdamaian dulu antara generasi penerus Panembahan Senopati dan Pangeran Pekik Surabaya. Ini kalau mau mengurai benang kusut politik di Jawa,” ujar Hendrajit, Jumat (10/10/2025).
Ia menambahkan, pola konflik yang terjadi di Jawa, terutama antara wilayah-wilayah Mataraman dan Banyumasan-Bagelenan, bukan sekadar soal politik kekuasaan antar pusat dan daerah. Lebih dari itu, konflik tersebut mengandung dimensi psiko-historis yang diwariskan turun-temurun dari masa kerajaan hingga era modern.
Hendrajit kemudian mengaitkan pandangannya dengan tesis peneliti asal Amerika, Christine Connely, yang meneliti fenomena pewarisan emosional lintas generasi. Connely berpendapat bahwa leluhur tidak hanya mewariskan sifat, status, atau harta, tetapi juga emosi—seperti kemarahan, kecurigaan, atau rasa dikhianati—yang dapat bertahan hingga puluhan generasi.
“Connely memberi contoh tentang seorang ibu kulit hitam di Amerika yang melarang anaknya berbisnis dengan kerabat di Afrika, karena trauma sejarah leluhurnya yang dijual sebagai budak oleh saudaranya sendiri. Ketidakpercayaan itu diwariskan terus-menerus,” jelas Hendrajit.
Menurutnya, konteks tersebut juga bisa ditemukan dalam sejarah panjang politik Jawa. Ia menilai bahwa konflik antarkelompok di Jawa pada dasarnya juga merupakan cerminan dari warisan psikologis dan emosional para leluhur yang belum selesai.
“Dalam diri setiap orang ada tiga lapis: diri sebagai wadah, diri sebagai isi, dan diri sebagai rasa. Leluhur kita mungkin sudah selesai secara jasad, tapi diri mereka sebagai rasa masih hidup dan menjalin kontak dengan generasi penerus,” tambahnya.
Hendrajit menjelaskan, dalam konteks geopolitik, Jawa terbagi dalam dua entitas kultural besar: Mataraman di sisi timur-tengah (Solo, Yogyakarta, Klaten, Boyolali, Sukoharjo, Karanganyar, Wonogiri, dan Sragen) serta Banyumasan-Bagelenan di sisi barat (Banyumas, Cilacap, Demak, Jepara, Rembang, Purwokerto, Purworejo, Kebumen, dan Wonosobo).
“Awalnya konflik dipicu oleh ketegangan antara elit kraton berdarah biru dan para pangeran yang menikah dengan putri ulama. Tapi kemudian, watak dan cara pandang masyarakat di dua wilayah itu terbentuk secara berbeda. Mataraman lebih feodal dan hirarkis, sementara Banyumasan-Bagelenan cenderung egaliter dan lugas,” ujarnya.
Titik kulminasi konflik tersebut, lanjutnya, terjadi saat Grebeg Pecinan 1740, ketika elit-elit kraton terbelah antara yang pro-Belanda dan pro-Tionghoa—yang saat itu melarikan diri ke Jawa setelah genosida oleh VOC di Batavia. Dari situ, bara konflik laten antartrah makin membesar, hingga akhirnya pada 1755 pecah peristiwa bersejarah: pembagian Mataram menjadi dua kerajaan, Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta.
“Para elit saat itu sadar konflik mereka rumit tapi masih terukur. Namun mereka tidak pernah menduga akan berakhir dengan perpecahan kraton,” tegasnya.
Menemukan Sesuatu dari Sejarah
Menutup pandangannya, Hendrajit menekankan pentingnya memahami sejarah bukan sekadar sebagai pelajaran masa lalu, melainkan sebagai sumber petunjuk masa depan.
“Ungkapan Bung Karno ‘Jas Merah’—jangan sekali-sekali melupakan sejarah—itu penting, tapi tidak cukup. Kita juga harus menemukan sesuatu dari sejarah. Karena di situlah kode masa depan tersembunyi,” katanya.
Menurutnya, mereka yang gagal menemukan makna dari sejarah akan terus mengulang kesalahan yang sama. Sementara mereka yang belajar dan menemukan sesuatu dari sejarah, justru akan menciptakan langkah-langkah baru yang bersejarah. (Ys)













