dr. Erli Meichory Viorika, Sp.A Aksi heroik dari angkasa bayi 22 bulan yang kejang.

0
39

dr. Erli Meichory Viorika, Sp.A
Aksi heroik dari angkasa bayi 22 bulan yang kejang.

Di ketinggian 30.000 kaki (9,1 km), di dalam kabin pesawat Citilink QG 990 rute Jakarta–Bengkulu, sebuah peristiwa kemanusiaan terjadi. Seorang balita berusia 22 bulan mendadak mengalami kejang demam. Kepanikan menyelimuti orang tua, sementara pesawat masih dalam fase penerbangan. Di tengah situasi darurat itu, hadir sosok dokter yang sigap dan tenang: dr. Erli Meichory Viorika, Sp.A.

Tanpa peralatan medis lengkap, dr. Erli—yang saat itu juga merupakan penumpang—segera memberikan pertolongan pertama. Dengan pengetahuan, pengalaman, dan empati, ia berhasil menstabilkan kondisi balita tersebut hingga pesawat mendarat dengan selamat di Bandara Fatmawati Soekarno, Bengkulu. Aksi tersebut menjadi bukti bahwa profesionalisme dokter tidak mengenal ruang dan waktu.

Kejadian yang berlangsung sekitar enam bulan lalu itu baru belakangan viral di media sosial. Namun bagi dr. Erli, menolong pasien adalah panggilan nurani. “Kondisi darurat bisa terjadi kapan saja dan di mana saja,” ujar Ketua Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Dr dr Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A, yang menyampaikan apresiasi atas aksi sigap tersebut.

Dr. Erli dikenal sebagai dokter spesialis anak yang rendah hati dan berdedikasi. Ia saat ini berpraktik di Bengkulu dan aktif sebagai anggota IDAI Bengkulu. Kepeduliannya terhadap kesehatan anak-anak Indonesia tercermin dalam kesehariannya, baik di ruang praktik maupun di luar fasilitas kesehatan.

Perjalanan akademik dr. Erli menunjukkan fondasi keilmuan yang kuat. Ia menempuh pendidikan kedokteran di Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta, masuk pada tahun 2007 dan menyelesaikan pendidikan profesi dokter pada 2013. Namun tonggak penting dalam pembentukan kompetensinya sebagai dokter anak ditempa di Universitas Andalas (Unand), Padang.

Alumni SMP 1 Bengkulu itu lalu menamatkam SMA 4 Denpasar Bali lalu menempuh pendidikan tinggi di Yogyakarya.

Pada tahun 2017, dr. Erli diterima sebagai peserta Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Ilmu Kesehatan Anak di Fakultas Kedokteran Universitas Andalas, salah satu pusat pendidikan kedokteran terkemuka di Sumatera. Di kampus inilah ia memperdalam keilmuan, keterampilan klinis, serta penanganan kasus-kasus emergensi anak.

Lingkungan akademik Unand yang kuat dalam tradisi klinis dan pengabdian masyarakat membentuk karakter profesional dr. Erli. Ketangguhan menghadapi situasi kritis, termasuk kasus kegawatdaruratan seperti kejang demam, menjadi bagian dari kompetensi yang diasah selama pendidikan spesialisnya di Padang.

Ketua PP IDAI, dr. Piprim, menyebut aksi dr. Erli sebagai cerminan ideal seorang dokter anak. “Inilah yang seharusnya dilakukan setiap dokter, selalu siap menolong siapa pun yang membutuhkan,” ujarnya. Ia juga menekankan pentingnya dokter anak untuk terus memperbarui ilmu dan keterampilan, khususnya dalam menghadapi situasi darurat.

Sebagai bentuk penghargaan, Pengurus Pusat IDAI akan memberikan apresiasi resmi kepada dr. Erli. Penghargaan tersebut rencananya diserahkan pada Simposium Nasional IDAI yang akan digelar di Bengkulu pada 6–8 Februari 2026. Apresiasi ini bukan sekadar simbol, melainkan pengakuan atas dedikasi dan kemanusiaan.

Kisah dr. Erli Meichory Viorika menjadi pengingat bahwa ilmu yang dipelajari di bangku kuliah—termasuk di Universitas Andalas—tidak hanya berhenti sebagai gelar akademik. Ia hidup dalam tindakan nyata, dalam keberanian mengambil keputusan cepat, dan dalam empati yang menyelamatkan nyawa, bahkan di ketinggian ribuan kaki di atas bumi.

Ada yang tahu…dokter Erli orang mana?

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.