Alumni ITB 2015 Ditunjuk Jadi Asisten Pelatih Timnas, Wasekjen IA-ITB: Bukti Sembah Bakti Ganesha untuk Garuda
PRIBUMINEWS.CO.ID – Wakil Sekretaris Jenderal Ikatan Alumni Institut Teknologi Bandung (IA-ITB), Ilma Mauldhiya Herwandi, menyampaikan apresiasi atas penunjukan Dzikry Lazuardi Z. S., alumni Teknik Geodesi dan Geomatika ITB angkatan 2015, sebagai Asisten Pelatih Tim Nasional Indonesia. Penunjukan tersebut dinilai menjadi kebanggaan tidak hanya bagi angkatan 2015, tetapi juga bagi keluarga besar alumni ITB.
“Saya melihat ini bukan sekadar capaian personal, tetapi bentuk nyata sembah bakti alumni Ganesha untuk bangsa. Sepak bola adalah ruang strategis yang menyatukan emosi dan harapan jutaan rakyat Indonesia,” ujar Ilma.
Menurut Ilma, penunjukan Dzikry mencerminkan semakin terbukanya ruang kontribusi bagi alumni ITB di berbagai sektor strategis nasional. Ia menegaskan bahwa alumni ITB memiliki tanggung jawab moral untuk hadir dan memberikan dampak nyata bagi Indonesia, tidak hanya melalui jalur industri, teknologi, maupun kebijakan publik, tetapi juga melalui bidang olahraga.
“Alumni ITB tidak boleh membatasi pengabdian hanya pada sektor-sektor yang dianggap konvensional. Sepak bola nasional adalah ruang publik yang sangat penting dan berpengaruh, sehingga kehadiran anak-anak bangsa dengan pendekatan profesional dan intelektual di dalamnya menjadi kebutuhan,” katanya.
Ilma juga menilai penunjukan Dzikry sebagai momentum penting bagi Tim Nasional Indonesia. Untuk pertama kalinya, jajaran staf kepelatihan tim nasional secara resmi diisi oleh sosok yang tidak berlatar belakang mantan pemain profesional, melainkan analis sepak bola dengan pendekatan ilmiah, berbasis data, dan metodologi modern.
“Ini langkah yang progresif dan mencerminkan keberanian untuk beradaptasi. Sepak bola modern menuntut pengambilan keputusan yang objektif, terukur, dan berbasis data. Apa yang dilakukan Timnas hari ini menunjukkan keseriusan untuk bergerak ke arah tersebut,” ungkapnya.
Dzikry dikenal memiliki rekam jejak panjang sebagai analis sepak bola profesional. Kariernya dimulai di Sulut United, kemudian berlanjut ke Persipura Jayapura, sempat memperkuat tim analis Persis Solo, sebelum dipercaya menjabat sebagai Kepala Analis di Persija Jakarta. Pengalaman lintas klub tersebut membentuk pemahaman yang komprehensif terhadap sepak bola Indonesia, baik dari sisi teknis, taktis, maupun dinamika kompetisi.
Selain rekam jejak profesional di klub, Dzikry juga memiliki latar belakang personal dan kualifikasi kepelatihan yang memperkuat posisinya sebagai analis sepak bola profesional. Pria yang lahir di Bandung pada 4 April 1997 ini tercatat memiliki Lisensi Kepelatihan C AFC, yang menegaskan kompetensi formalnya dalam struktur kepelatihan sepak bola sesuai standar Konfederasi Sepak Bola Asia.
Latar belakang pendidikan Dzikry di bidang Teknik Geodesi dan Geomatika ITB dinilai semakin memperkuat kapasitas tersebut. Ilma menilai pendekatan analisis spasial, pemetaan pergerakan pemain, serta pengolahan data performa sangat relevan dengan kebutuhan sepak bola modern yang menuntut presisi dan efisiensi tinggi.
“Sepak bola hari ini bicara soal ruang, jarak, efisiensi, dan pengambilan keputusan cepat. Apa yang dipelajari di dunia teknik dan analisis sangat aplikatif untuk menjawab kebutuhan itu,” ujar Ilma.
Ilma juga mengungkapkan bahwa dirinya mengenal Dzikry secara personal sejak masa pendidikan. Keduanya merupakan rekan sejawat di SMA Negeri 3 Bandung dan kembali dipertemukan sebagai mahasiswa di ITB. Dalam pengamatannya, Dzikry dikenal sebagai pribadi yang konsisten, teliti, dan memiliki daya analisis kuat.
“Sejak dulu saya mengenal Dzikry sebagai sosok yang sangat detail dan disiplin dalam berpikir. Karakter itu sangat penting untuk peran analis di level tim nasional,” ujarnya.
Lebih jauh, Ilma menilai kehadiran Dzikry dapat memperkaya proses pengambilan keputusan teknis di tubuh Timnas Indonesia. Pendekatan berbasis data dinilai dapat melengkapi pengalaman praktis para pelatih di lapangan dan menciptakan keseimbangan antara intuisi sepak bola dan analisis objektif.
Ilma juga menempatkan kiprah Dzikry sebagai bagian dari kesinambungan dedikasi alumni ITB terhadap sepak bola nasional. Sebelumnya, kontribusi alumni ITB juga tercermin melalui peran Ratu Tisha Destria (Matematika ITB 2004) yang mengabdikan diri dalam penguatan tata kelola sepak bola nasional melalui Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI).
“Tidak semua kontribusi harus datang dari lapangan. Ada peran-peran strategis di balik layar yang sama pentingnya untuk membangun sepak bola nasional yang sehat dan berkelanjutan,” katanya.
Dalam konteks yang lebih luas, Ilma mengaitkan penunjukan Dzikry dengan Semangat Juang GIN2 atau Gerakan Inovator Nasional 2045 yang ia gagas. GIN2 mendorong lahirnya inovator lintas disiplin yang berani membawa cara berpikir baru ke berbagai sektor strategis bangsa.
“GIN2 tidak membatasi inovasi pada satu bidang keilmuan. Selama itu membawa kemajuan bagi Indonesia, di situlah inovasi harus hadir. Dzikry adalah contoh konkret bagaimana ilmu, profesionalisme, dan nasionalisme bisa berjalan beriringan,” tegasnya.
Ilma juga menilai bahwa penunjukan analis profesional ke dalam struktur kepelatihan Timnas Indonesia mencerminkan perubahan paradigma dalam pengelolaan sepak bola nasional. Menurutnya, langkah ini menandai proses pendewasaan sepak bola Indonesia yang mulai menempatkan ilmu pengetahuan dan data sebagai fondasi utama pengambilan keputusan strategis.
“Sepak bola dunia sudah lama bergerak ke arah ini. Data bukan lagi pelengkap, tetapi menjadi dasar dalam menyusun strategi, mengevaluasi performa, dan meminimalkan keputusan berbasis asumsi. Kehadiran analis profesional di Timnas adalah langkah yang tidak bisa ditunda,” ujar Ilma.
Menutup pernyataannya, Ilma menegaskan bahwa penunjukan Dzikry Lazuardi merupakan simbol bahwa pengabdian kepada bangsa dapat dilakukan melalui berbagai jalan. Ia berharap semakin banyak anak bangsa yang berani mengambil peran strategis, membawa keahlian dan integritasnya untuk Indonesia.
“Pada akhirnya, Tim Nasional bukan hanya soal menang atau kalah, tetapi tentang harga diri bangsa. Ketika anak-anak bangsa terbaik bersedia hadir, bekerja, dan mengabdi dengan sepenuh hati, di situlah Garuda berdiri tegak. Itulah makna sejati sembah bakti untuk Indonesia,” pungkas Ilma.













