“Lift”: Teror Psikologis Tanpa Mistis, Ujian Keberanian Sinema Indonesia di Ruang Sempit

0
27
Ari Ibnu Hajar : Sineas Senior - Foto : Istimewa

“Lift”: Teror Psikologis Tanpa Mistis, Ujian Keberanian Sinema Indonesia di Ruang Sempit

Di tengah arus film Indonesia yang masih gemar menjual teror mistik sebagai jalan pintas menuju pasar, Lift datang membawa kegelisahan berbeda.

Film yang dijadwalkan tayang pada 26 Februari ini justru menolak dikotakkan sebagai film teror konvensional. Menariknya, pendekatan berbeda tersebut tidak hanya mendapat perhatian di dalam negeri, tetapi juga mulai memperoleh pengakuan di ranah festival internasional.

Lift tercatat masuk dalam sejumlah seleksi dan nominasi bergengsi, antara lain Official Selection Dubai City Film Festival 2025, serta meraih nominasi Best Horror/Thriller Feature, Best Director, Best Screenplay, dan Best Cinematography di Los Angeles Fantasy Fest 2025. Film ini juga masuk Official Selection AME International Film Festival 2026, serta memperoleh nominasi Best Feature Film, Best Director Feature Film, dan Best Cinematography di The North Film Festival Barcelona 2026.

Capaian tersebut memberi konteks bahwa Lift bukan sekadar eksperimen lokal, melainkan karya yang turut dibaca dalam percakapan sinema global.

Sineas senior Ari Ibnu Hajar dengan tegas menyebut Lift sebagai drama action thriller, bukan film teror sebagaimana lazimnya film ruang terbatas dengan bahasa mistis. Pembedaan ini bukan soal istilah semata.

Ia menyentuh persoalan mendasar dalam literasi perfilman nasional: kecenderungan menyederhanakan ketegangan menjadi hantu, dan teror menjadi sekadar kejutan visual.

“Sementara Lift hadir dengan setting dan penggarapan yang menawarkan adegan teror berbeda—lebih jeli, cermat, dan berani,” ungkap Ari Ibnu Hajar dalam wawancaranya via sambungan telepon (4/2/2026).

Teror sebagai Situasi, Bukan Sebagai Makhluk

Menurut Ari, teror dalam Lift lahir dari kondisi manusia yang terjebak dalam situasi ekstrem—ruang sempit, tekanan waktu, konflik kepentingan, dan pilihan-pilihan yang mendesak. Tidak ada dunia gaib, tidak ada entitas supranatural. Yang ada hanyalah manusia dan situasinya.

Pendekatan ini menempatkan Lift sejajar dengan tradisi thriller psikologis dan action thriller global, di mana ketegangan dibangun melalui eskalasi konflik dan atmosfer, bukan lewat efek kejut instan.

Di titik ini, Lift sesungguhnya sedang mengajukan kritik diam-diam terhadap kebiasaan sinema nasional yang kerap menyamakan teror dengan mistisisme.

Ruang Terbatas sebagai Taruhan Estetika

Sekitar 60 persen adegan berlangsung di dalam lift, sisanya tetap berada dalam ruang tertutup seperti kantor dan ruang operator.

“Pilihan ini bukan sekadar gaya, melainkan taruhan estetika sekaligus risiko besar,” ujar Ari .

Film dengan set terbatas menuntut presisi tinggi: penyutradaraan aktor, komposisi kamera, ritme dialog, hingga tempo dramatik harus bekerja nyaris tanpa celah.

Dalam wawancara, Ari menyebut pendekatan ini sebagai pekerjaan rumah yang berat—dan pernyataan itu bukan berlebihan.

Dalam konteks film Indonesia, eksplorasi ruang sempit sebagai sumber ketegangan masih relatif jarang. Karena itu, Lift lebih tepat dibaca sebagai eksperimen naratif ketimbang tontonan aman.

Bayang-Bayang Mantan Produser The Raid

Nama mantan produser The Raid 1 dan The Raid 2 yang melekat pada Lift dengan sendirinya membentuk ekspektasi publik. Wajar jika penonton berharap pada detail koreografi aksi, presisi kamera, dan intensitas fisik yang pernah menjadi ciri khas film-film tersebut.
Ari mengakui adanya jejak teknis yang terasa—terutama pada detail pengambilan gambar dan cara adegan fisik diarahkan.

Namun ia juga menegaskan perbedaannya: Lift tidak bermain pada skala kolosal ala The Raid, melainkan pada detail, tekanan, dan intensitas personal.

Di sinilah tantangannya: apakah film ini mampu berdiri sebagai karya otonom, atau justru akan terus dibaca dalam bayang-bayang reputasi masa lalu para pendukungnya.

Trailer, Ilusi, dan Kewaspadaan Menonton

Sebagai sineas, Ari bersikap jujur soal keterbatasan trailer sebagai alat penilaian.

“Trailer adalah iklan—ia dirancang untuk menggoda, bukan untuk mewakili keseluruhan film,”ujar Ari.

Musik yang menghentak, potongan adegan cepat, dan intensitas tinggi bisa menciptakan ekspektasi yang belum tentu selaras dengan pengalaman menonton utuh.

Peringatan ini penting, terutama di era ketika film kerap “menang” di trailer tetapi kalah di layar.

Kontribusi atau Sekadar Keberanian?

Pertanyaan krusialnya bukan hanya apakah Lift menegangkan, melainkan apakah ia berhasil memperluas horizon sinema Indonesia.

Dengan menempatkan teror sebagai hasil relasi manusia dan situasi, film ini berpotensi memperkaya wacana genre—jika dieksekusi dengan konsisten hingga akhir.
Setidaknya, Lift menunjukkan satu hal penting: ada keberanian untuk keluar dari pakem.

Dalam industri yang sering bermain aman, keberanian semacam ini sudah layak dicatat, meski tetap harus diuji secara artistik dan komersial oleh penonton.

Lift bukan film yang bisa dinilai hanya dari label genre atau nama besar di belakangnya.

Ia adalah taruhan: pada ruang sempit, pada ketegangan non-mistis, dan pada kecerdasan penonton.

Apakah taruhan itu akan berbuah kemenangan atau sekadar menjadi eksperimen yang menarik, jawabannya akan ditentukan ketika lampu bioskop padam.

Satu hal pasti—Lift menantang kebiasaan lama sinema Indonesia dalam memaknai teror. Dan itu, dalam dirinya sendiri, sudah merupakan sebuah pernyataan.*(Beng Aryanto)*

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.