Daging Sapi Indonesia yang Selalu Masalah

Dibawah ini ada tulisan bagus, dan semoga bisa jadi solusi soal Sapi di indonesia yang selalu menjadi masalah.

Jungkir balikkan harga daging sapi Indonesia ?

Bisa !

Gimana cara nya ?

Sederhana, jangan bikin aturan yang tanggung yang hanya membuat harga daging sapi semakin mahal seperti:
– Impor pakai kuota yang di batas-batasi.
– Pengenaan bea masuk karena perbedaan terjemahan “sapi” dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia.
– Pembatasan izin impor per kwartal atau per catur wulan dan persyaratan-persyaratan lainnya yang membebani.

Jangan berikan izin impor yang tanggung:
– Izin impor jangan pakai kuota dan semua importir di perboleh kan.
– Izin impor untuk satu tahun, bukan per kwartal atau per catur wulan yang membuat importir harus beli juga di masa bukan panen sehingga mahal.
– Izin impor daging sapi beku di bebaskan.
– Izin impor sapi hidup di bebaskan.

Itu yang dilakukan di Malaysia, makanya mereka bisa. Jadi kalau pengen kayak Malaysia ya tiru semuanya, jangan tanggung.
Harga daging kerbau beku di Malaysia ada yang 7,5 ringgit per paun, sekitar 15 ringgit per Kg, setara Rp 45 ribu per Kg.
Harga daging sapi beku di Malaysia ada yang 15 ringgit per paun, sekitar 30 ringgit per Kg, setara Rp 90 ribu per Kg.
Tapi ada juga harga daging sapi yang 150 ringgit per paun, sekitar 300 ringgit per Kg, setara Rp 900 ribu per Kg.
Bahkan ada yang lebih mahal lagi, tanyakan harga Tenderloin, Sirloin, Rib Eye dari jenis sapi Angus, Kobe atau Blonde.

Kalau memang kebutuhan utama masyarakat menghendaki daging sapi yang Rp 80 ribu per Kg, maka daging sapi itu akan banyak yang jual di pasar.
Kalau memang kebutuhan utama masyarakat menghendaki daging sapi yang lebih murah lagi Rp 45 ribu per Kg, maka daging sapi itu akan banyak yang jual di pasar.
Kalau ada masyarakat yang membutuhkan daging sapi yang Rp 300 ribu per Kg, maka daging sapi itu akan ada yang jual di pasar.
Kalau ada masyarakat yang membutuhkan daging sapi yang Rp 1,5 juta per Kg, maka daging sapi itu pun akan ada yang jual di pasar.

Kalau masyarakat memang menyukai daging sapi beku, maka daging sapi itu akan tersedia banyak di pasar.
Kalau masyarakat lebih menyukai daging sapi segar, maka daging sapi itu akan tersedia banyak di pasar walau harganya lebih mahal dari daging beku.

Biarkan hukum kebutuhan dan suplai yang mengatur. Itu hukum alam, tidak bisa dilawan dan tidak bisa di akali !
Importir yang nggak efisien, mati karena kalah bersaing.
Feedlot yang nggak efisien, mati karena kalah bersaing.

Dalam hukum kebutuhan dan suplai berlaku juga rupa dan harga. Ada rupa ada harga.
Kualitas yang lebih baik tentu harganya akan lebih tinggi. Bisa dari Rp 45 ribu per Kg sampai Rp 1,5 juta per Kg.

Jadi jangan tanggung supaya urusan nggak jadi rumit sehingga masalah semakin membelit.

Lalu bagai mana dengan lebih dari 6 juta petani peternak yang selama ini telah menabung penghasilan mereka dalam bentuk sapi ?
Sepintas, sepertinya mereka akan menanggung potensi kerugian sekitar Rp 70 trilliun. Sekitar sepertiga dari nilai total aset ternak yang mereka miliki sebanyak hampir 15 juta ekor yang bernilai Rp 210 trilliun. Karena harga sapi hidup akan jatuh dari Rp 45 ribu per Kg menjadi Rp 30 ribu per Kg. Rata2 nilai per ekor sapi di peternak saat ini sekitar Rp 14 juta (Rp 45 ribu x rata-rata 300 Kiloan per ekor).

Namun demi 250 juta lebih rakyat Indonesia agar dapat makan daging sapi murah, potensi kerugian Rp 70 triliun bagi 6 juta rakyat petani peternak mungkin bisa diterima walau sangat menyakitkan. Barangkali ada yang akan demo dan mengatakan demi orang di kota ingin makan daging sapi murah, peternak didesa yang harus membayarnya, di buat rugi dan menderita.

Lalu sekitar 3 juta ekor sapi jantan dewasa akan buru2 di jual oleh peternak sebelum harga benar2 jatuh. Jadi realisasi kerugian bisa ditekan menjadi sekitar Rp 14 triliun saja – lebih kecil dari biaya swasembada.
Lalu sekitar 9 juta ekor sapi betina akan selamat dari pembantaian karena sapi jantan sudah murah dan banyak. Jadi sapi betina yang terlanjur dimiliki dengan harga mahal akan dipelihara untuk memproduksi pedet agar nanti sukur-sukur modal bisa balik.
Lalu sekitar 3 juta pedet akan di besarkan dengan cara seefisien mungkin karena kalau tidak maka harga jualnya tidak akan memberikan hasil yang menguntungkan.
Lalu ada tambahan 5 juta pedet lagi pertahun karena ada sekitar 9 juta betina yang selamat dari pembantaian.

Nanti masyarakat Indonesia sudah menikmati daging sapi murah karena tersedia banyak di pasar.
Nanti juga tersedia berbagai macam jenis daging sapi dengan berbagai macam harga di pasar.
Nanti petani peternak sudah menjalankan peternakan mereka dengan cara yang lebih efisien. Barangkali jumlah nya sudah tidak sebanyak dulu, namun setiap peternak punya rata-rata 20 ekor sapi betina indukan yang di pelihara dengan cara yang sangat efisien sehingga menguntungkan. Untuk mencapai 20 juta ekor populasi diperlukan hanya 1 juta orang peternak. Kalau di Malaysia peternak lokal sudah sirna tapi di negri kita akan tetap ada karena kita memberi makan rakyat sebanyak 250 juta.
Nanti muncul juga peternak khusus penggemukkan sapi jantan yang menjamin ketersedian sapi potong setiap hari tanpa menunggu menjual sapinya di musim2 tertentu saja. Kita akan benar2 bisa menghitung dan mengandalkan stok sapi potong nasional dari populasi yang ada di kandang peternak penggemukan.
Nanti akan ada suplai sapi bakalan lokal sebanyak 4 juta per tahun karena sudah ada populasi sapi sebanyak 20 juta.
Nanti harga sapi bakalan impor akan turun karena bersaing dengan berbagai sumber suplai yang memiliki banyak pilihan kualitas dan harga.

Jadi masalahnya sangat sederhana. Suplai !

Jadi jangan mengarang cerita pengusaha mafia. Karena hal itu percuma dan tidak akan memperbaiki apa-apa.
Jadi jangan menuduh asosiasi kartel. Karena hal itu tidak akan menurunkan harga.
Jadi jangan menuding peternak itu teroris. Karena mereka hanya mencari hidup.

Jadi jangan di persulit sehingga urusan jadi rumit dan masalah semakin membelit.

Kalau memang cinta Indonesia bersikaplah jujur dan terbuka, buka pikiran seluas-luasnya.
Hadapi masalah dengan lapang dada, cari solusinya bersama-sama.
Bebaskan Indonesia dari belitan masalah yang menjauhkan berkah.

Jangan gusar, rezeki tidak akan tertukar. Rezeki sudah ditentukan dari sono nya.

Jakarta, Mei 2016.

Hafid Wahyu
Ketua Dewan GAPUSPINDO
Gabungan Pelaku Usaha Peternakan Sapi Potong Indonesia

Comments

comments